SULAWESI BARAT — Maluku Utara mencatat rekor pertumbuhan ekonomi yang sulit ditandingi daerah lain di Indonesia. Pada kuartal I-2026 saja, ekonomi provinsi ini tumbuh 19,6 persen. Angka ini merupakan dampak langsung dari operasional pabrik pemurnian nikel terintegrasi di IWIP, yang mengolah bijih nikel menjadi bahan baku baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik.
"Hilirisasi telah mengubah perekonomian Maluku Utara secara signifikan," ujar Sherly Tjoanda dalam diskusi "Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku" di Jakarta, Rabu (3/6/2026). Menurutnya, pembangunan kawasan industri ini tidak hanya mendongkrak investasi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menghubungkan daerah terluar dengan rantai pasok global.
Kehadiran ribuan pekerja di kawasan industri menciptakan permintaan konsumsi yang sangat besar. Kebutuhan pangan di IWIP dan sekitarnya mencapai Rp 100 miliar per bulan atau Rp 1,2 triliun per tahun. Namun, ironisnya, sebagian besar pasokan masih berasal dari luar Maluku Utara.
Saat ini, baru sekitar 20 persen kebutuhan tersebut dipenuhi oleh petani dan nelayan lokal. Pemerintah daerah berupaya mengejar ketertinggalan dengan memperkuat infrastruktur pertanian dan perikanan. "Harapannya kebutuhan ayam, daging, telur, hingga beras nantinya dapat diproduksi secara lokal," kata Sherly.
Langkah ini dinilai krusial agar pertumbuhan industri tidak hanya dinikmati korporasi, tetapi juga petani, nelayan, dan pelaku UMKM setempat. Pemerintah provinsi juga mendorong UMKM lokal masuk ke rantai pasok industri, mulai dari jasa katering, logistik, hingga penyediaan alat keselamatan kerja.
Selain soal pangan, tantangan besar lain adalah kesenjangan sumber daya manusia. Pemerintah daerah memperkuat pendidikan vokasi dan politeknik agar masyarakat lokal bisa mengisi posisi teknis dan manajerial di pabrik-pabrik nikel. Sherly mengaku tengah berdiskusi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan sejumlah perguruan tinggi untuk mengembangkan program studi metalurgi, kelistrikan, dan teknik.
Dengan kapasitas produksi yang mencapai sepertujuh pasokan nikel dunia, Maluku Utara kini menjadi simpul penting dalam rantai pasok mineral kritis global. Jika pemerataan ekonomi berhasil diwujudkan, provinsi ini bisa menjadi model hilirisasi yang tidak hanya menguntungkan industri, tetapi juga membangun kesejahteraan masyarakat lokal secara berkelanjutan.