JAKARTA — Tekanan jual yang mendominasi pasar logam mulia dalam beberapa waktu terakhir membuat prospek harga emas masih cenderung negatif. Meskipun sesekali muncul upaya rebound, struktur bearish pada timeframe mingguan dinilai belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang kuat.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa pergerakan pasangan XAU/USD saat ini masih berada dalam fase penurunan yang solid. Pada grafik mingguan dan harian, harga bergerak dalam pola yang menunjukkan dominasi seller, sementara momentum kenaikan yang berkelanjutan belum terbentuk.
Dari sisi teknikal, area support di level 4.096 dolar AS menjadi titik krusial yang diperkirakan akan diuji dalam waktu dekat. Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut gagal bertahan, peluang harga emas turun menuju area 3.884 dolar AS semakin terbuka lebar.
Indikator stochastic yang berada di area oversold juga belum memberikan sinyal pemulihan yang meyakinkan. Geraldo menambahkan bahwa meskipun jenuh jual kerap menjadi awal rebound, belum ada konfirmasi teknikal yang cukup untuk mengubah arah tren dari bearish menjadi bullish.
Selain faktor teknikal, sentimen fundamental masih menjadi beban bagi logam mulia. Penguatan dolar Amerika Serikat yang bertahan di level tinggi membuat emas semakin mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini secara langsung menekan permintaan.
Tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turut mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi. Dalam situasi seperti saat ini, investor cenderung beralih ke aset berbasis dolar yang menawarkan pendapatan tetap, sementara emas tidak memberikan bunga maupun dividen.
Pasar masih meyakini bahwa Federal Reserve belum akan mengubah kebijakan moneternya dalam waktu dekat. Selama data ketenagakerjaan dan inflasi AS masih menunjukkan ketahanan, ekspektasi suku bunga tinggi akan terus menopang penguatan dolar dan menjaga tekanan terhadap harga emas.
Berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven turut memengaruhi pergerakan pasar. Ketika kondisi ekonomi global dianggap relatif stabil, investor lebih memilih instrumen dengan potensi keuntungan lebih tinggi dibandingkan emas yang berfungsi sebagai lindung nilai.
Kombinasi antara kuatnya dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi, dan menurunnya permintaan safe haven membuat prospek emas dalam jangka menengah masih menantang. Geraldo menekankan bahwa selama belum ada perubahan signifikan pada sentimen pasar maupun struktur teknikal, tren penurunan diperkirakan masih menjadi tema utama.
Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan Federal Reserve yang akan menjadi penentu pergerakan harga emas ke depan.