CSA mengumumkan Matter 1.6 pada hari ini sebagai pembaruan inkremental, namun dampaknya terhadap pengalaman pengguna sangat terasa. Protokol NFC memungkinkan ponsel membaca data konfigurasi perangkat langsung dari chip yang tertanam di bodi atau kemasan produk. Artinya, pengguna cukup menempelkan smartphone ke perangkat—baik itu lampu, sakelar, atau sensor—dan aplikasi rumah pintar akan langsung mendeteksi serta menyiapkan koneksi jaringan, bahkan saat perangkat masih dalam keadaan mati total.
Selama ini, proses pairing smart home membutuhkan tiga tahap: membuka aplikasi, memindai kode QR yang sering buram atau terlalu kecil, lalu menunggu koneksi Bluetooth stabil. Matter 1.6 memangkas semua itu menjadi satu sentuhan. Protokol NFC bertindak sebagai pembawa data pengaturan awal—identitas perangkat, kredensial jaringan Wi-Fi, dan kunci enkripsi—sehingga perangkat bisa langsung bergabung ke jaringan rumah pintar begitu dialiri listrik.
Ini bukan sekadar kemewahan. Di pasar Indonesia, di mana koneksi internet tidak selalu stabil dan perangkat smart home kerap diimpor tanpa panduan bahasa Indonesia yang jelas, kemudahan setup menjadi faktor kritis adopsi. Pengguna tidak perlu lagi bergelut dengan manual berbahasa Mandarin atau kode QR yang aus karena gesekan di kardus pengiriman.
Selain NFC, Matter 1.6 membawa dua fitur tambahan yang patut diperhatikan. Pertama, Joint Fabric, yang memungkinkan satu perangkat dikelola bersama oleh beberapa aplikasi atau platform sekaligus tanpa konflik. Sebagai contoh, sebuah lampu pintar bisa dioperasikan lewat aplikasi Google Home di ponsel istri dan aplikasi Apple Home di iPad suami secara bersamaan, tanpa perlu reset pabrik atau pengaturan ulang.
Kedua, fitur Thermostat Suggestion. Fitur ini memberi rekomendasi suhu berdasarkan pola penggunaan dan kondisi cuaca, mirip dengan algoritma pembelajaran yang sudah ada di termostat premium. Meski belum menjadi standar wajib, fitur ini membuka jalan bagi penghematan energi yang lebih cerdas—relevan bagi pengguna di Indonesia yang mulai beralih ke AC pintar dan termostat digital.
Matter sebenarnya sudah mendukung NFC secara teknis sejak versi 1.0, tetapi implementasinya masih bersifat opsional dan jarang digunakan produsen. CSA kini menjadikan dukungan NFC sebagai rekomendasi kuat dalam spesifikasi, mendorong produsen seperti Philips Hue, Eve, dan Aqara untuk mengintegrasikan chip NFC langsung ke produk mereka.
Dorongan ini muncul dari data bahwa kegagalan setup adalah alasan nomor satu pengguna mengembalikan perangkat smart home ke toko. Dengan menghilangkan gesekan di langkah pertama, CSA berharap tingkat retensi pengguna naik signifikan. Bagi ekosistem smart home yang masih berjuang menembus pasar massal, ini adalah langkah kecil dengan dampak besar.
Pembaruan Matter 1.6 bersifat backward-compatible, artinya perangkat yang sudah bersertifikat Matter sebelumnya tidak akan bermasalah. Namun, fitur NFC hanya bisa dinikmati pada produk baru yang dirilis setelah sertifikasi versi ini berlaku. Produsen diperkirakan mulai meluncurkan perangkat dengan dukungan NFC pada kuartal kedua 2026. Bagi pengguna yang sudah memiliki perangkat lama, proses setup tetap menggunakan kode QR dan Bluetooth seperti biasa.
Di Indonesia, ketersediaan produk bersertifikat Matter masih terbatas pada merek-merek besar seperti Xiaomi, Philips, dan TP-Link. Namun dengan hadirnya fitur NFC yang menyederhanakan proses, bukan tidak mungkin adopsi smart home di pasar lokal akan mendapat dorongan yang selama ini dinantikan.