SULAWESI BARAT — Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu disebut-sebut bakal mengumumkan kerugian pada laporan keuangan kuartal kedua 2026, Rabu (22/7) waktu setempat. Keputusan CEO Elon Musk yang menggeser fokus dari produksi mobil ke pengembangan robot humanoid dan taksi otonom dinilai sebagai biang kerok di balik membengkaknya belanja modal.
Analis Morgan Stanley dalam catatannya memperkirakan belanja modal alias capital expenditure (capex) Tesla tahun ini akan melonjak hingga 25 miliar dolar AS atau setara Rp 400 triliun. Jumlah itu disebut lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Akibatnya, arus kas bebas (free cash flow) perusahaan diprediksi akan negatif. "Seiring capex yang meningkat dua kali lipat dan arus kas bebas berubah negatif, investor semakin fokus pada bukti bahwa pengeluaran Tesla benar-benar memperkuat parit AI fisik mereka," tulis Morgan Stanley dalam risetnya, dikutip dari Reuters.
Keputusan Elon Musk untuk mengalihkan sumber daya besar-besaran ke proyek AI dan robotika menuai sorotan. Dalam laporan Reuters, Selasa (21/7), disebutkan bahwa produsen mobil listrik terlaris di dunia itu kini menganggap bisnis jualan mobil sudah membosankan.
Alih-alih menggenjot produksi kendaraan, Musk lebih memilih fokus pada bisnis yang ia anggap keren: robot humanoid dan taksi tanpa pengemudi. Sebagian besar valuasi pasar Tesla saat ini memang bergantung pada janji-janji proyek tersebut, bukan pada penjualan mobilnya.
Menariknya, pengembangan perangkat lunak AI Musk tidak sepenuhnya berada di bawah Tesla. Divisi tersebut dipegang oleh xAI, perusahaan milik SpaceX yang juga menaungi Twitter. Situasi ini membuat sebagian investor bertanya-tanya seberapa besar keuntungan yang benar-benar akan kembali ke Tesla dari pengeluaran raksasa ini.
Sementara Tesla bersiap mencatat rugi, General Motors (GM) justru menikmati cuan. Produsen asal Detroit itu baru saja menaikkan proyeksi laba tahunannya untuk kedua kalinya setelah mencatatkan kenaikan laba inti kuartal kedua sebesar 30 persen.
Kunci sukses GM? Penjualan truk pikap dan SUV besar seperti Cadillac Escalade yang tetap laris meski harga bensin naik. Harga jual rata-rata mobil GM di AS mencapai 52.000 dolar AS, lebih tinggi dari rata-rata harga mobil baru nasional yang berkisar 50.000 dolar AS.
Laporan Reuters dari Detroit menyebut konsumen GM masih bersedia merogoh kocek dalam untuk kendaraan mahal, terlepas dari tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja.
Di sisi lain, Honda memilih bertahan di China meski penjualan jeblok. Produsen Jepang itu baru saja memperpanjang kontrak joint venture dengan GAC Group hingga 2038.
Keputusan ini diambil di tengah merosotnya penjualan karena lini mobil listrik (EV) Honda dianggap tidak mampu bersaing dengan produk lokal China yang lebih murah. CEO Honda Toshihiro Mibe secara blak-blakan mengakui kesalahan perusahaannya.
"Kami belajar dengan cara yang sulit bahwa memperkenalkan kendaraan yang dikembangkan dari perspektif Jepang ke pasar lokal tidak cukup," ujar Mibe kepada surat kabar Yomiuri, seperti dikutip Automotive News, Senin (20/7). Ia menambahkan bahwa masa depan industri otomotif akan berpusat pada pabrikan China karena daya saing biaya mereka telah menjadi standar industri.