SULAWESI BARAT — Nothing resmi meluncurkan Ear (3a) di Indonesia pada Juli lalu, dan kami sudah menjajalnya selama dua minggu sebagai earbuds harian—mulai dari perjalanan commuter, bekerja di kafe, hingga sesi olahraga ringan. Yang paling menarik dari produk ini bukan sekadar suaranya, melainkan fitur Audio Snapshot yang mengubah cara earbuds digunakan.
Nothing mempertahankan bahasa desain transparan yang jadi ciri khasnya. Casing Ear (3a) berbentuk kapsul dengan ujung membulat, berbeda dari saudaranya Nothing Ear 3 yang lebih ramping. Bagian luar casing transparan memperlihatkan earbuds di dalamnya, sementara tangkai earbuds juga dibungkus lapisan transparan yang memamerkan komponen interior.
Sayangnya, desain kapsul ini punya konsekuensi: casingnya cukup tebal dan besar saat disimpan di saku celana. Ini trade-off yang harus Anda terima demi estetika khas Nothing.
Driver dinamis 12 mm pada Ear (3a) menghasilkan karakter suara yang lebih berisi dibanding pendahulunya. Bass terasa dalam dan bertekstur, tapi tidak berlebihan—komposisi vokal dan instrumen tetap seimbang saat kami memutar lagu-lagu The Beatles dan Queen. Untuk menonton film atau YouTube, suaranya terasa jernih dan tidak melelahkan di telinga.
Pengaturan suara bisa diutak-atik lewat aplikasi Nothing X, termasuk equalizer dari komunitas Nothing yang bisa langsung dipakai. Tapi ada satu hal yang mengganggu: tidak ada kontrol usap untuk mengatur volume. Setiap kali ingin mengecilkan atau membesarkan suara, Anda tetap harus mengeluarkan ponsel—sedikit merepotkan di tengah aktivitas.
Active Noise Cancellation Ear (3a) bekerja baik di lingkungan dengan kebisingan rendah sampai menengah. Suara AC, kipas angin, atau obrolan latar di kafe bisa diredam dengan cukup efektif. Namun saat digunakan di tepi jalan raya yang ramai, ANC-nya belum mampu mengisolasi suara kendaraan sepenuhnya—beberapa detail musik masih tersamarkan oleh kebisingan eksternal.
Untuk ukuran TWS di harga Rp1 jutaan, performa ANC ini masih masuk kategori baik. Hanya saja, jangan berharap isolasi total seperti earbuds flagship di kelas Rp3 jutaan ke atas.
Ini fitur yang paling menarik. Dengan Audio Snapshot, Anda bisa merekam audio langsung ke penyimpanan internal earbuds berkapasitas 32 MB (sekitar 16 MB yang bisa dipakai) tanpa perlu membuka aplikasi. Praktis untuk merekam catatan suara singkat, mengabadikan momen, atau sekadar menyimpan ide yang muncul tiba-tiba.
Kapasitasnya memang terbatas, tapi untuk kebutuhan rekaman cepat, fitur ini tetap berguna dan menjadi pembeda utama dibanding kompetitor di kelas harga yang sama.
Nothing mengklaim Ear (3a) bertahan hingga 10 jam dengan ANC nonaktif dan sekitar 6 jam dengan ANC aktif dalam sekali pengisian. Dengan charging case, totalnya mencapai 42 jam tanpa ANC atau 25 jam dengan ANC. Kapasitas baterai earbuds 55 mAh dan casing 500 mAh.
Dalam pemakaian nyata, klaim ini cukup mendekati. Kami menggunakan earbuds 1–2 jam per hari dengan ANC aktif, dan setelah dua minggu daya casing masih tersisa sekitar 30 persen. Fast charging 5 menit untuk 1 jam pemakaian (ANC nonaktif) juga bekerja sesuai janji—cukup menenangkan saat lupa mengisi daya sebelum berangkat.
Kelebihan:
Kekurangan:
Nothing Ear (3a) adalah pilihan menarik bagi Anda yang mengutamakan desain khas Nothing dan ingin fitur rekaman audio praktis di earbuds. Dengan harga Rp1 jutaan, kualitas suara dan baterainya sudah cukup solid untuk penggunaan harian, dan ANC-nya memadai untuk kebutuhan urban.
Tapi jika prioritas Anda adalah kontrol volume tanpa menyentuh ponsel atau ANC yang benar-benar meredam kebisingan ekstrem, ada opsi lain di kelas harga yang sama dengan keunggulan di sektor tersebut. Ear (3a) paling cocok untuk pengguna yang menghargai diferensiasi fitur dan estetika—bukan sekadar spesifikasi di atas kertas.