Kisah Deni Asal Polewali Mandar Tembus Paskibraka ke Istana Merdeka, Nilai TWK 95 dan Latihan dari Pagi Sampai Petang

Penulis: Rendi Kusuma  •  Minggu, 16 Agustus 2026 | 10:41:01 WIB
Deni Fikri, siswa asal Polewali Mandar, lolos sebagai anggota Paskibraka untuk bertugas di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026.

POLEWALI MANDAR — Perjuangan panjang selama bertahun-tahun akhirnya membawa M Deni Fikri ke jenjang tertinggi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Siswa UPTD SMA Negeri 1 Wonomulyo ini lolos mewakili Sulawesi Barat (Sulbar) untuk bertugas pada upacara kemerdekaan di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus 2026 mendatang.

Bersama Ismi Ulfaida, siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar, Deni menjadi dua wakil Sulbar yang dikirim ke pemusatan pelatihan tingkat pusat sejak Juli lalu. Baginya, ini bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan tuntasnya misi yang gagal diraih sang kakak.

Terinspirasi Kakak yang Gugur di Seleksi Nasional

Ketertarikan Deni pada dunia baris-berbaris lahir sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, ia menyaksikan sang kakak bertugas sebagai Komandan Kelompok (Danpok) 17 pada upacara HUT RI di tingkat kecamatan. Momen itulah yang membekas dan mengubah arah hidupnya.

"17 orang, sekitar ada 50 meter ke lapangan, masuk. Saya kagum melihat kakak saya. Dari situ saya tertarik, dan semenjak saya masuk SD, saya mulai belajar sedikit demi sedikit ke kakak saya tentang hadap kanan, hadap kiri, jalan di tempat," tuturnya kepada detikedu, Minggu (16/8/2026).

Sayangnya, sang kakak gagal melaju ke tingkat nasional. "Bagi saya, ini cita-cita saya dari SD, melanjutkan perjuangan kakak saya yang dulunya gugur dalam seleksi paskibraka tingkat nasional," ujar Deni.

Strategi Matang: Dari Pramuka hingga Les Malam Hari

Menariknya, Deni tidak menggeluti ekstrakurikuler paskibra saat SMP. Ia justru aktif di organisasi Pramuka dan dipercaya menjadi pimpinan regu selama dua tahun. Pengalaman memimpin kelompok itu menjadi modal awal, di samping bimbingan intensif dari kakak sepupunya.

Setiap malam, Deni mengerjakan kertas soal Tes Intelegensia Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang diberikan kakak sepupunya. Hasilnya naik bertahap, dari nilai 20 di hari pertama, menjadi 30 di hari ketiga, hingga meningkat signifikan menjelang H-1 seleksi.

Untuk materi ke-Pancasilaan, ia mempelajari makna sila pertama sampai kelima, cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, hingga sejarah nama Pancasila beserta perumus dan pencetusnya. Pembagian waktu pun diatur ketat: sekolah pagi, latihan fisik sore, dan belajar wawasan kebangsaan di malam hari.

Rutinitas Fisik: Lari 6 Kilometer dan Push-up Lima Kali Sehari

Kesiapan mental tidak cukup tanpa fisik yang prima. Deni menjalani latihan kesamaptaan dengan fokus membangun stamina. Ia rutin berlari pagi dan sore masing-masing tiga kilometer, ditambah latihan push-up, sit-up, back-up, dan shuttle run.

"Kesamaptaan tergantung dari waktu. Bisa kita melatih lari, push-up. Itu push-up lima kali sehari, setidaknya ada lima kali push-up lah. Kemudian lari pagi, setidaknya tiga kilometer, lari sore juga tiga kilometer," jelasnya.

Usaha itu membuahkan hasil manis. Pada seleksi tingkat kabupaten, Deni mengantongi nilai TWK 95 dan TIU 90. Angka tersebut bertahan di tingkat provinsi dengan nilai TWK dan TIU masing-masing 95, sebelum akhirnya ia masuk tiga besar pasangan putra-putri Sulbar bersama empat kandidat lainnya dari Polewali Mandar, Pasangkayu, dan Mamuju.

Bertemu 38 Provinsi dan Belajar Toleransi Budaya

Terpilihnya Deni sebagai perwakilan Sulbar membuka pengalaman baru: berkenalan dengan calon paskibraka dari 38 provinsi, dari Sabang sampai Merauke. Perbedaan budaya dan bahasa justru menjadi pelajaran berharga selama pemusatan pelatihan.

"Mewakili daerah itu sangat bangga karena bisa mengharumkan daerah sendiri, terutama di desa saya sendiri. Dan bertemu dengan teman-teman 38 provinsi ini, saya cukup senang dan bahagia bisa berkenalan se-Indonesia," tuturnya.

"Tetapi itu bukan halangan bagi kami. Kami tetap satu, tetap saling merangkul, agar angkatan 2026 ini lebih baik dari tahun sebelumnya," pungkas Deni.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top