Pertamina Bina 29 Penyandang Disabilitas di Boyolali lewat Peternakan dan Biogas

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 07:18:31 WIB
Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Boyolali membina 29 penyandang disabilitas di Desa Keposong melalui program peternakan dan pertanian terpadu.

SULAWESI BARAT — Boyolali bukan cuma dikenal sebagai sentra susu sapi. Di Desa Keposong, Kecamatan Tamansari, ada kelompok yang membuktikan bahwa disabilitas bukan halangan untuk produktif. Mereka adalah Kelompok Pandawa Patra, binaan Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Boyolali, yang kini mengelola lahan pertanian dan peternakan terpadu.

Cerita ini bermula dari tujuh penyandang disabilitas yang kesulitan mendapat akses pelatihan pada 2017. Kegiatan belajar saat itu masih dilakukan di rumah-rumah dengan fasilitas seadanya. Haryono, local hero Pandawa Patra, mengakui keterbatasan tempat berkumpul menjadi tantangan terbesar di awal perintisan.

Pendampingan, Bukan Sekadar Bantuan

Perubahan datang pada akhir 2021 ketika Pertamina mulai mendampingi kelompok ini. Alih-alih langsung memberi bantuan, tim Pertamina bersama anggota kelompok memetakan kebutuhan dan potensi terlebih dahulu. Hasilnya, konsep integrated farming dipilih sebagai solusi jangka panjang.

"Pertamina tidak langsung memberikan bantuan, tetapi lebih dulu berdiskusi, memetakan kebutuhan kami, lalu menyusun program yang sesuai dengan kondisi anggota," jelas Haryono.

Pendekatan ini menjadi pembeda. Program tidak berhenti pada pemberian alat atau modal, melainkan memperkuat kapasitas kelompok lewat pelatihan pertanian dan peternakan yang berkelanjutan. Anggota dibekali keterampilan baru sekaligus keberanian untuk mencoba dan berkembang.

Dari Biogas hingga Kepercayaan Diri

Inovasi yang dihadirkan Pertamina di lokasi ini adalah pemanfaatan biogas dari kotoran sapi untuk kebutuhan listrik integrated farming. Pemanfaatan energi terbarukan ini menjadi roh dari program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina.

Kini Pandawa Patra memiliki 29 anggota yang terdiri dari 24 penyandang disabilitas beserta keluarganya dan lima keluarga rentan. Salah satunya Martuti (42) yang bergabung bersama anaknya, Bagas Suprianto (21), penyandang disabilitas. Melalui kelompok ini, ia belajar cara menanam, beternak, hingga mendapatkan manfaat ekonomi lainnya.

"Di sini kami selalu mengatakan kepada teman-teman bahwa Pandawa Patra bukan tempat mencari uang, tetapi tempat belajar. Kalau ingin gagal, silakan gagal di sini. Ketika kembali ke rumah, mereka harus sudah siap dan percaya diri untuk berhasil," tegas Haryono.

Komitmen Inklusif Pertamina

Muhammad Baron, VP Corporate Communication Pertamina, mengatakan DEB Pandawa Patra membuktikan bahwa kemauan untuk mandiri bisa diwujudkan oleh siapa saja. "Dengan keterbatasan yang mereka miliki, anggota DEB Pandawa Patra menjadi tempat untuk menumbuhkan kemandirian anggota kelompok," kata Baron.

Program ini sejalan dengan komitmen Pertamina mendorong kemandirian masyarakat sekaligus menciptakan pembangunan yang inklusif di berbagai daerah Indonesia. Dari Boyolali, Pertamina menunjukkan bahwa pemberdayaan yang tepat sasaran bisa mengubah keterbatasan menjadi kekuatan produktif.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top