MAJENE — Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Salabose, Majene, Sulawesi Barat, tahun ini kembali menyedot perhatian. Ribuan warga dari berbagai penjuru, termasuk rombongan dari Mamuju, hadir untuk memperingati kelahiran Rasulullah dalam balutan tradisi yang sarat makna sejarah dan spiritual.
Maulid Salabose bukanlah perayaan biasa. Di balik lantunan salawat dan doa, tradisi ini menyimpan kisah heroik tentang penyebaran Islam di tanah Mandar. Cerita yang diwariskan turun-temurun itu berpusat pada sosok Syech Abdul Mannan dan sebuah keris pusaka milik Raja Banggae.
Menurut riwayat yang berkembang di masyarakat, Syech Abdul Mannan kala itu meminta izin kepada Raja Banggae untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Majene. Sang raja memberikan syarat yang nyaris mustahil: membuka keris pusaka miliknya dari sarungnya.
Banyak ksatria dan pendekar telah mencoba membuka keris tersebut, namun semuanya gagal. Namun, atas izin Allah, Syech Abdul Mannan berhasil melakukannya. Raja Banggae yang takjub akhirnya memberikan izin dan bahkan mendukung penuh penyebaran Islam di Majene.
Peristiwa bersejarah itu menjadi fondasi kuat bagi perkembangan Islam di Sulawesi Barat. Nilai-nilai agama kemudian menyatu dengan adat istiadat setempat, membentuk tradisi Maulid Salabose yang kita kenal sekarang.
Pelaksanaan Maulid Salabose memperlihatkan harmoni antara syariat Islam dan budaya Mandar. Nuansa adat, sajian khas, hingga semangat gotong royong menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan ini.
Semangat kebersamaan itu tercermin dalam filosofi sibaliparriq—saling membantu dan berbagi beban dalam kehidupan. Nilai ini sejalan dengan ajaran Rasulullah tentang kasih sayang, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut H. Makdoem Ibrahim, Analis Kebijakan Ahli Muda Bina Mental & Spiritual Biro Pemkesra, Maulid Salabose adalah ruang pendidikan budaya dan spiritual bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus globalisasi, tradisi ini penting dirawat agar identitas daerah tidak terpisah dari nilai agama dan kebudayaan.
Maulid Salabose mengajarkan bahwa mencintai Rasulullah bukan hanya dengan memperbanyak salawat, tetapi juga menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Islam dan budaya lokal dapat berjalan beriringan tanpa kehilangan jati diri masing-masing.
Kearifan lokal bukan penghalang bagi kemajuan. Justru sebaliknya, ia menjadi kekuatan sosial dan spiritual yang memperkuat persaudaraan, toleransi, dan kemaslahatan masyarakat Sulawesi Barat.
Perjalanan dari Mamuju menuju Salabose bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan batin untuk kembali mengingat dan meneladani sosok manusia agung, Nabi Muhammad SAW. Semoga Maulid Salabose senantiasa menjadi warisan budaya dan spiritual yang hidup, serta menjadi perekat masyarakat dalam membangun Sulawesi Barat yang maju dan berlandaskan nilai keagamaan.