SULAWESI BARAT — Nilai tukar rupiah melemah 0,62% ke Rp17.905,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan, turun 110,5 poin dari posisi sebelumnya Rp17.795. Tekanan datang dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang menguat setelah data PMI Composite AS melonjak ke 58,4. Dalam sepekan, dolar AS sudah menguat 0,93% terhadap rupiah.
Data grafik USD/IDR menunjukkan rupiah bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp17.920 sepanjang sesi. Pagi tadi, rupiah dibuka melemah 43 poin ke Rp17.861 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Dalam sebulan terakhir, dolar AS menguat 1,10% terhadap mata uang Indonesia.
Level penutupan ini masih berada di bawah puncak 52 minggu Rp18.197,5. Rupiah sempat menguat ke sekitar Rp17.500 pada pertengahan September sebelum kembali tertekan secara bertahap.
Indeks dolar AS (DXY) bergerak di kisaran 101,1 hingga 101,2 setelah menguat 0,49% pada sesi sebelumnya. Imbal hasil US Treasury naik 15,5 basis poin ke 5,11%, sementara harga minyak berada di level US$102,05 per barel.
Kombinasi penguatan dolar, kenaikan yield, dan harga minyak tinggi menambah beban bagi mata uang negara pengimpor energi seperti Indonesia. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober diperkirakan mencapai 70%, naik dari sebelumnya 53%.
Gubernur The Fed Michael Barr dan Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin memberi sinyal bahwa pengetatan lanjutan masih mungkin dibutuhkan untuk meredam inflasi.
Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada rapat 22 hingga 23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Suku bunga acuan sudah ditahan tiga kali berturut-turut sejak Juni.
Dengan sikap The Fed yang cenderung hawkish, selisih suku bunga Indonesia dan AS berpotensi menyempit. Ruang bagi rupiah untuk menguat dalam jangka pendek relatif terbatas, sehingga peran intervensi BI di pasar valas tetap krusial.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.810 hingga Rp17.860 per dolar AS.
"Tanpa rilis data ekonomi besar pekan ini, pelaku pasar akan mencermati perkembangan negosiasi AS dan Iran serta hasil pertemuan Xi Jinping dengan Donald Trump," ujar Lukman Leong.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor dalam mengelola portofolio. Emiten dengan utang dollar AS dan biaya impor tinggi menghadapi tekanan margin, sementara eksportir berbasis komoditas justru diuntungkan.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas jangka pendek, strategi lindung nilai menjadi pertimbangan utama di tengah volatilitas kurs. Pergerakan rupiah juga memengaruhi daya beli konsumen terhadap produk impor dan bahan baku industri.