POLEWALI MANDAR — Junda Maulana menyoroti tantangan pengasuhan anak yang dinilainya jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Arus informasi dan teknologi digital yang pesat, menurut dia, turut melahirkan persoalan sosial baru di kalangan anak-anak.
Perundungan, keterlibatan narkoba, hingga lunturnya rasa hormat kepada orang tua menjadi sejumlah persoalan yang ia angkat dalam sambutan bertema penyelamatan generasi dari krisis akhlak tersebut.
Junda tidak menampik bahwa teknologi seperti media sosial maupun kecerdasan buatan dibutuhkan anak-anak untuk menambah pengetahuan. Meski begitu, ia menegaskan penggunaannya tetap harus berada di bawah pengawasan ketat orang dewasa.
"Masalah-masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh sekolah saja, keluarga saja, pemerintah saja, atau anak itu sendiri. Peran keluarga yang semakin melemah harus kita tingkatkan kembali," tegas Junda.
Ia menilai pendidikan di lembaga madrasah dan pesantren menjadi salah satu benteng utama dalam membentuk akhlak mulia. Para tenaga pendidik diharapkan tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, melainkan memprioritaskan penguatan karakter serta keteladanan.
"Satu sisi sosial media, gadget, itu diperlukan oleh anak-anak kita untuk mendapatkan informasi. Namun kita harus bisa mengontrol anak-anak kita dalam menggunakan HP tersebut dan membatasi penggunaannya," ujarnya.
Mewakili Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Junda mengapresiasi kontribusi besar YPI Campalagian dalam mencetak alumni-alumni berprestasi yang kini menduduki berbagai posisi strategis.
Ia berkomitmen meneruskan aspirasi serta kebutuhan pengembangan fasilitas pendidikan di YPI Campalagian kepada Gubernur Suhardi Duka.
Acara peringatan Maulid Nabi itu turut dihadiri jajaran pengurus YPI Campalagian, tokoh agama, pimpinan pesantren, perwakilan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, serta ratusan santri dan masyarakat setempat.