SULAWESI BARAT — Nilai tukar rupiah dibuka menguat 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.896 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.915. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang terjadi sejak awal pekan, meski pasar masih dibayangi tekanan jangka pendek.
Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta membawa mata uang lokal ke posisi Rp17.896 per dolar AS. Angka itu lebih kuat dibandingkan penutupan Kamis di level Rp17.915 per dolar AS. Penguatan 19 poin ini menandai hari kedua berturut-turut rupiah bergerak di zona positif.
Pada perdagangan Kamis, rupiah sebenarnya sempat menguat ke Rp17.871 per dolar AS saat pembukaan, sebelum akhirnya berbalik melemah dan ditutup di Rp17.915. Pola serupa pernah terjadi sehari sebelumnya, ketika rupiah dibuka menguat 16 poin atau 0,09 persen ke Rp17.871, lalu ditutup melemah 28 poin atau 0,16 persen ke Rp17.915.
Bank Indonesia mencatat kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di level Rp17.890 per dolar AS. Angka itu melemah dari posisi sebelumnya di Rp17.880 per dolar AS. Perbedaan arah antara kurs spot pagi dan JISDOR menunjukkan pasar masih rentan terhadap fluktuasi intraday.
JISDOR menjadi acuan penting bagi pelaku pasar valas karena mencerminkan rata-rata transaksi antarbank. Melemahnya JISDOR meski kurs spot menguat bisa menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang.
Dalam sepekan terakhir, rupiah bergerak dalam rentang sempit antara Rp17.866 hingga Rp17.915 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang masih menimbang berbagai sentimen global dan domestik.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, fluktuasi di kisaran ini tetap perlu diantisipasi. Importir bahan baku dan perusahaan dengan utang valas menjadi pihak yang paling sensitif terhadap pergerakan harian.
Pergerakan rupiah pagi ini belum cukup memberi kepastian arah untuk sesi penutupan. Pola dua hari terakhir menunjukkan penguatan pagi sering tidak bertahan hingga akhir perdagangan.
Investor obligasi dan saham perbankan biasanya merespons pergerakan kurs dengan cepat. Rupiah yang stabil cenderung mendukung minat asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Sebaliknya, pelemahan JISDOR bisa menahan laju masuknya dana asing.
Pelaku pasar akan menunggu data transaksi penutupan sore untuk melihat apakah penguatan 19 poin ini berlanjut atau kembali berbalik seperti dua hari sebelumnya.