Rupiah Tembus Rp17.987 per Dolar AS, Tertekan Data Inflasi AS yang Panas

Penulis: Qodri Anwar  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 09:31:01 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.987 per dolar AS dipengaruhi data inflasi inti PCE AS yang meningkat.

SULAWESI BARAT — Pergerakan rupiah pagi ini kontras dengan sejumlah mata uang Asia lainnya yang masih mampu bertahan. Ringgit Malaysia memimpin penguatan dengan apresiasi 0,31 persen, disusul peso Filipina yang naik 0,07 persen, dan dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01 persen. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi yang terlemah di Asia dengan depresiasi 0,38 persen, diikuti dolar Singapura yang turun 0,05 persen.

Data PCE dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Pemicu

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan tekanan terhadap rupiah berasal dari eksternal. Inflasi inti PCE AS yang dirilis semalam menunjukkan kenaikan ke level tertinggi sejak Oktober tahun lalu. Angka ini menjadi sinyal bahwa tekanan harga di negara adidaya itu belum sepenuhnya terkendali.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com. Ia menambahkan pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve turut meningkatkan ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga acuan.

Dolar Kanada Sendirian, Mata Uang Negara Maju Lainnya Terpuruk

Di kelompok mata uang utama negara maju, dolar Kanada menjadi satu-satunya yang mampu menguat terhadap greenback, dengan kenaikan tipis 0,03 persen. Sebaliknya, dolar Australia terpangkas 0,29 persen, euro melemah 0,10 persen, franc Swiss terkoreksi 0,09 persen, dan poundsterling Inggris turun 0,03 persen. Kondisi ini menunjukkan dominasi dolar AS yang meluas di hampir seluruh pasar valuta asing global.

Kisaran Perdagangan Hari Ini: Rp17.900–Rp18.050

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Level Rp18.000 menjadi resistance psikologis yang krusial. Jika tembus, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan semakin besar dalam pekan depan. Sebaliknya, jika mampu bertahan di bawah level tersebut, ada potensi konsolidasi jangka pendek.

Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati rilis data tenaga kerja AS pekan depan yang bisa menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan dolar dan rupiah.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top