Utang Krakatau Steel Tembus Rp34 Triliun, Arus Kas Terancam Meski Laba Naik

Penulis: Puguh Triyono  •  Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:59:01 WIB
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan menyatakan perbaikan struktur modal sebagai prioritas utama perusahaan.

SULAWESI BARAT — Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengakui bahwa penyelesaian kewajiban masa lalu masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ia menegaskan perbaikan struktur modal melalui rasionalisasi portofolio bisnis menjadi prioritas utama demi menjaga kas perusahaan tetap bernapas.

"Oleh karena itu, Perseroan akan terus melakukan evaluasi portofolio secara aktif dan meninjau kembali kerja sama yang belum memberikan nilai optimal, demi menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh seluruh stakeholders," ujar Akbar dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu, 27 Juni 2026.

Utang Jangka Pendek Mencekik, Bank Himbara Jadi Kreditur Utama

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian 2025, porsi liabilitas jangka pendek Krakatau Steel didominasi tagihan pinjaman jangka panjang yang harus segera dibayar tahun ini sebesar USD166,99 juta. Selain itu, terdapat liabilitas jangka panjang lain-lain yang jatuh tempo senilai USD53,40 juta.

Rincian kreditur menunjukkan, Krakatau Steel terlilit utang ke berbagai sindikasi bank Himpunan Milik Negara (Himbara) dan swasta. Eksposur terbesar tercatat di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dengan nilai pinjaman mencapai USD171,42 juta, serta bank swasta PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar USD35,38 juta. Bank Mandiri, BNI, Standard Chartered, hingga Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) juga tercatat sebagai kreditur sindikasi.

Tak hanya perbankan, struktur utang jangka panjang KRAS juga disokong pinjaman pemegang saham dari PT Danantara Asset Management (Persero) sebesar USD66,72 juta. Perusahaan juga menerbitkan Obligasi Wajib Konversi senilai USD120,84 juta dan memikul liabilitas jangka panjang lain-lain sebesar USD249,75 juta.

Laba Semu di Atas Kertas, Arus Kas Justru Negatif

Meski Krakatau Steel mencatat lonjakan laba bersih USD339,64 juta pada 2025, angka itu murni berasal dari penyesuaian akuntansi akibat restrukturisasi finansial. Fakta di lapangan menunjukkan, aliran kas bersih dari aktivitas operasi justru negatif USD1,75 juta pada periode yang sama.

Akbar mengakui, dukungan pendanaan dari pihak eksternal sangat krusial menjaga napas operasional. "Dukungan pendanaan dan kepercayaan dari Danantara menjadi pendorong utama bagi kami untuk terus berbenah, dan laba ini adalah titik awal yang kami sikapi dengan rendah hati," kata Akbar.

Tanpa perbaikan efisiensi produksi, laba di atas kertas tidak akan mampu menutup defisit arus kas yang terus menggerus modal kerja. Manajemen mengklaim total kewajiban telah turun 17,04 persen dibanding 2024, namun rasio utang masih sangat timpang jika dibandingkan ekuitas yang hanya USD725,51 juta.

Fokus Efisiensi Pabrik Demi Selamatkan Kas

Menghadapi tekanan likuiditas, Akbar memastikan manajemen tengah memfokuskan perbaikan efisiensi di lini manufaktur. "Kami fokus memastikan setiap lini produksi berjalan dengan efisien, agar dapat menghasilkan produk baja yang lebih kompetitif dan dapat bersaing di pasar," tegasnya.

Ketergantungan terhadap permodalan berbasis utang membuat fundamental Krakatau Steel rentan terhadap gejolak ekonomi global. Ke depan, keberhasilan pemulihan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mencetak arus kas bersih positif dari operasional pabrik, bukan sekadar laba akuntansi dari restrukturisasi.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: kabarbursa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top