PLN Atasi Krisis Listrik Sulawesi, Pasokan Ditargetkan Normal Akhir September

Penulis: Surya Dinata  •  Jumat, 18 September 2026 | 10:19:31 WIB

SULAWESI BARAT — PT PLN (Persero) menargetkan pasokan listrik di sistem Sulawesi Bagian Selatan kembali seimbang pada akhir September 2026 setelah defisit 600 megawatt akibat kekeringan. Pemadaman bergilir yang melanda Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat dipicu turunnya produksi pembangkit hidro. PT Poso Energy menegaskan pemadaman tidak bisa dikaitkan dengan satu pembangkit saja.

Mengapa Pemadaman Tidak Bisa Ditimpakan ke Satu Pembangkit

Humas Poso Energy, M. Syafrie, menjelaskan bahwa listrik yang dihasilkan PLTA Poso masuk ke sistem kelistrikan Sulawesi bersama pasokan dari pembangkit lain. Pengaturan penyaluran ke rumah pelanggan sepenuhnya berada di tangan PLN melalui jaringan transmisi dan distribusi.

"Sistem kelistrikan Sulawesi merupakan jaringan yang terintegrasi dan saling terhubung. Artinya, listrik dari berbagai pembangkit masuk ke dalam sistem kelistrikan dan kemudian disalurkan melalui jaringan kepada masyarakat," ujar Syafrie.

Ia menambahkan, PLTA Poso bukan pihak yang mengatur distribusi listrik ke rumah-rumah pelanggan. Karena itu, menurut dia, pemadaman di suatu wilayah harus dilihat dari kondisi sistem secara keseluruhan, bukan langsung menyimpulkan satu pembangkit sebagai penyebabnya.

Produksi PLTA Poso Anjlok dari 500 MW ke 90 MW

Manajer PLN UP3 Palu, Ansar, mengungkapkan produksi listrik PLTA Poso turun signifikan dibandingkan kondisi normal. Dari yang biasanya mencapai 500 megawatt, kini hanya dipertahankan di 90 megawatt.

Penurunan serupa dialami sejumlah pembangkit hidro lain seperti PLTA Bakaru, PLTA Malea, serta beberapa PLTM dan PLTMH. Secara agregat, kapasitas pembangkit hidro di sistem Sulbagsel turun dari sekitar 850 MW menjadi sekitar 250 MW atau berkurang sekitar 600 MW.

Defisit pasokan inilah yang membuat PLN menerapkan pemadaman bergilir. Tujuannya menjaga kestabilan sistem dan mencegah pemadaman total yang dampaknya jauh lebih luas.

Langkah PLN: Sewa PLTD hingga Modifikasi Cuaca

PLN menyiapkan sejumlah langkah penanganan jangka pendek maupun menengah. Ansar menyebut perusahaan menyewa pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), mempercepat masuknya pembangkit baru, serta menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

"Salah satu solusinya itu jangka pendeknya sewa pembangkit, sewa PLTD. Tapi sebenarnya perencanaan-perencanaan pembangkit ini sudah on going. Itu dilakukan percepatan," ujarnya.

Rekayasa cuaca telah dijalankan selama tiga pekan terakhir untuk meningkatkan curah hujan di daerah tangkapan air pembangkit. Hujan mulai turun di sekitar Tentena dan Poso, tetapi pasokan air ke pembangkit dinilai belum pulih sepenuhnya.

"Ada hujannya. Cuma mungkin belum cukup, ya. Makanya kadang-kadang ada hujan tuh tiba-tiba di Tentena, di Poso. Belum maksimal," kata Ansar.

Target Pasokan Normal Akhir September 2026

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menyatakan sistem kelistrikan Sulbagsel menghadapi tekanan akibat menurunnya daya mampu pembangkit hidro yang dipengaruhi kondisi hidrologi.

"Dalam beberapa waktu terakhir, sistem kelistrikan Sulbagsel menghadapi tekanan seiring menurunnya daya mampu sejumlah pembangkit hidro. Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Niño," kata Darmawan.

PLN menargetkan pasokan dan kebutuhan listrik di sistem Sulbagsel kembali berangsur seimbang pada akhir September 2026. Seluruh langkah dijalankan secara paralel dan dievaluasi harian.

Bagi pelanggan di wilayah terdampak, pemulihan pasokan bergantung pada kombinasi percepatan pembangkit pengganti dan perbaikan debit air di daerah tangkapan. Selama keduanya belum pulih, pengaturan beban masih menjadi opsi untuk menjaga jaringan tetap stabil.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: media.alkhairaat.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top