Harga Sawit di Mamuju Tengah Anjlok Rp 1.000 per Kilogram, Petani Enggan Panen karena Takut Rugi

Penulis: Surya Dinata  •  Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:40:31 WIB
Petani sawit di Mamuju Tengah menunda panen akibat harga TBS turun menjadi Rp 1.680 per kilogram.

MAMUJU TENGAH — Aksi mogok panen mulai meluas di kalangan petani sawit di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, setelah harga tandan buah segar (TBS) anjlok hingga menyentuh angka Rp 1.680 per kilogram. Penurunan ini terjadi secara mendadak di PT Mitra Andalan Sawit (MAS) Barakkang, dari harga sebelumnya Rp 2.480 menjadi Rp 1.680 per kilogram sejak Jumat (22/5/2026).

“Mulai tadi di PT MAS Barakkang harga sawit turun Rp 500 jadi Rp 1.680 per kilogram,” ujar Hermansyah, seorang petani sawit di Barakkang, Jumat sore.

Antrean Panjang dan Buah Membusuk di Timbangan

Bukan hanya soal harga, petani juga dihadapkan pada antrean panjang yang membuat buah sawit membusuk sebelum sempat ditimbang. Hermansyah menyebut, bertruk-truk TBS terpaksa menjadi brondolan karena tidak kunjung masuk ke dalam timbangan pabrik.

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan petani. Banyak yang memilih menunda panen karena biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan harga jual yang terus merosot. Para pengepul pun mulai mengurangi pembelian lantaran harga di pabrik bisa berubah sewaktu-waktu sebelum buah dibongkar.

Petani Curiga Ada Permainan Harga Industri

Kecurigaan mulai muncul di kalangan petani. Mereka menduga penurunan harga ini bukan murni karena mekanisme pasar, melainkan ada permainan dari pihak industri pengolahan sawit. Jumlah pabrik kelapa sawit di Sulawesi Barat yang masih terbatas dinilai menjadi celah bagi pemain besar untuk menekan harga.

“Ini akal-akalan, karena mau buka kebun baru. Jadi mereka memainkan harga agar bisa membuka kebun dengan alasan ini menambah pabrik jadi memadai,” kata Aco Muliadi, petani lainnya.

Apa Dampak Anjloknya Harga Sawit bagi Petani di Mamuju Tengah?

Dampak paling langsung adalah kerugian ekonomi yang dialami petani. Dengan harga jual di bawah Rp 2.000 per kilogram, biaya panen dan transportasi kerap tidak tertutupi. Hermansyah mengaku, dalam satu kali pengiriman, harga bisa berubah hingga lima kali sebelum buah dibongkar.

Kapan Pemerintah Daerah Akan Turun Tangan?

Para petani kini berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera mencari solusi. Mereka menginginkan adanya intervensi harga atau pembukaan akses ke pabrik-pabrik lain agar persaingan harga lebih sehat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemkab Mamuju Tengah terkait penurunan harga sawit ini.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: mekora.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top