MAJENE — Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan penghalang untuk produktif. Ia menjalani dua peran sekaligus: sebagai tenaga honorer di instansi pemerintah dan sebagai pelaku UMKM.
Setiap pagi, perempuan ini berangkat ke kantor seperti pegawai pada umumnya. Sore harinya, setelah tugas kedinasan selesai, ia berganti peran menjadi pengusaha kecil-kecilan.
Dagangannya beragam, mulai dari makanan ringan hingga kebutuhan sehari-hari. Usaha ini ia rintis sejak beberapa tahun lalu untuk menambah penghasilan keluarga.
Dari usaha sampingan itu, ia mengaku mampu mengantongi omzet sekitar Rp 3 juta setiap bulannya. Angka ini cukup signifikan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik.
“Alhamdulillah, lumayan bisa bantu suami. Yang penting sabar dan pandai bagi waktu,” ujarnya, menggambarkan perjuangannya membagi peran sebagai ibu, istri, pegawai, dan pebisnis.
Keputusannya merintis UMKM bukan tanpa alasan. Gaji sebagai tenaga honorer dinilai belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan dua anaknya yang masih sekolah.
Dengan berjualan, ia bisa lebih leluasa mengatur keuangan. Keuntungan dari dagangan ia alokasikan khusus untuk tabungan pendidikan anak dan kebutuhan dadakan.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah membagi energi dan waktu. Antara pekerjaan kantor yang menuntut fokus dan urusan dapur yang tidak ada habisnya, ia harus pintar-pintar mencari celah.
“Kadang masak sambil siapin dagangan malam hari. Pagi tinggal angkut ke tempat jualan,” ceritanya tentang rutinitas harian yang padat.
Kisahnya perlahan menjadi perbincangan di kalangan sesama ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa tetangga mulai tertarik meniru langkahnya untuk memulai usaha kecil dari rumah.
Ia berpesan agar tidak mudah menyerah di awal. “Modal utama bukan uang, tapi kemauan. Mulai dari yang kecil dulu, yang penting jalan,” pungkasnya.