MAJENE — Angin Sendana berembus kencang saat layar-layar Sandeq dikembangkan di panggung kebangkitan maritim Sulawesi Barat. Pembukaan Sandeq Silumba 2026 berlangsung meriah di Rest Area PP Palipi, Desa Banua, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, pada Jumat, 25 September 2026.
Gubernur Sulbar Suhardi Duka hadir bersama jajaran FORKOPIMDA, Bupati Majene Andi Achmad Syukri Tammalele, dan para tokoh adat Mandar. Dalam sambutannya, Suhardi menegaskan posisi Sandeq bagi masyarakat Mandar.
“Memang Sandeq ini jati diri orang Mandar,” ujar Suhardi Duka.
Suhardi menekankan Sandeq Silumba tahun ini tidak boleh berhenti sebagai ajang lokal. Komitmen itu terbukti setelah Sandeq Silumba resmi masuk daftar Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata untuk didorong menuju pentas internasional.
Dukungan penuh datang dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Barat. Kepala DKP Sulbar Safaruddin menyatakan pihaknya hadir sebagai pengawal ekosistem maritim dan keselamatan pelayaran.
“Sandeq Silumba ini adalah sekolah karakter bagi generasi muda bahari kita. Tugas kami memastikan tradisi ini tetap lestari, lautnya terjaga, dan Passandeq kita sejahtera. Perahu boleh melaju kencang, tapi nilai kearifan lokalnya harus tetap menjadi jangkar utama,” kata Safaruddin.
Sandeq dikenal hingga mancanegara sebagai perahu layar tradisional tercepat di dunia. Bentuk lambungnya ramping dengan layar segitiga yang ikonik.
Keunikannya, perahu ini dibuat tanpa paku besi dan hanya mengandalkan pasak kayu serta ikatan presisi. Para Passandeq dituntut piawai memainkan cadik dan berat badan demi menjaga keseimbangan di tengah hempasan gelombang Selat Makassar.
Rute pelayaran Sandeq Silumba 2026 membentang dari Majene menuju Polewali Mandar (Polman). Lonjakan peserta menjadi 80 perahu tahun ini membuktikan warisan budaya Mandar masih terus menyala.
Dari sebuah desa kecil di Banua, Sandeq Silumba 2026 membawa pesan bahwa jati diri bahari Sulawesi Barat siap berlayar mendunia.