SULAWESI BARAT — Delapan pelari detikcomRunners menempuh rute Jakarta-Bandung dengan cara tak biasa, berlari estafet melewati Depok, Bogor, dan jalur pegunungan Puncak-Cianjur. Perjalanan dimulai dari kawasan Senayan pada Jumat (16/10/2026) pukul 21.09 WIB dan memakan waktu lebih dari satu malam. Rute ini menawarkan sudut pandang berbeda bagi traveler yang biasa melintasi Puncak dengan kendaraan.
Muhammad Ai mengambil langkah pertama dari sekitar Kemendikti, Senayan, meninggalkan gemerlap Jakarta menuju Depok. Estafet kemudian berpindah ke Toro yang melanjutkan perjalanan ke Bogor, sebelum Rohman mengambil alih dan membawa tim memasuki kawasan Puncak.
Puncak selama ini identik dengan kemacetan akhir pekan. Mobil dan bus wisata mengular di jalur yang sama, membuat perjalanan singkat terasa jauh lebih lama.
Delapan pelari detikcomRunners melihat kawasan itu dari perspektif lain. Mereka tidak duduk di balik kaca kendaraan, melainkan menyusuri jalur yang biasanya dipenuhi kendaraan wisatawan.
Udara sejuk, hamparan perkebunan, dan perbukitan yang selama ini dinikmati dari dalam mobil kini dirasakan langsung di kaki sendiri.
Tim terdiri dari Femi Diah, Andhika Prasetya, Asya, Agus Tri Haryanto, Fadhlur Rohman, Rizki Hardyantoro, Muhammad Ai, dan Sukma Noviansyah. Mereka berasal dari berbagai divisi detikcom dan bergantian membawa estafet menuju Kota Kembang.
Di belakang mereka ada tim support dan marshal yang memastikan kebutuhan pelari terpenuhi sekaligus menjaga keamanan, terutama saat bergerak di malam hari dan melewati jalur ramai.
Setelah Toro menyelesaikan bagian di Bogor, Rohman mengambil alih estafet. Tim memutuskan bermalam satu malam di Puncak sebelum perjalanan dilanjutkan peserta lain.
Untuk perjalanan ramai-ramai, pilihan menginap di Puncak tergolong ramah di kantong. Sebuah cottage dengan tarif sekitar Rp 500 ribuan per malam sudah mendapatkan dua kamar.
Pilihan sederhana ini memberi gambaran bahwa perjalanan akhir pekan ke Puncak tidak selalu identik dengan akomodasi mahal. Yang penting, tempatnya cukup nyaman untuk mengisi kembali tenaga sebelum melanjutkan bagian paling menantang.
Jalur menuju Cianjur memiliki tanjakan dengan elevasi mencapai sekitar 1.000 meter. Bagi pelari, perubahan kontur seperti ini bukan perkara kecil, apalagi saat udara malam yang dingin menyertai perjalanan.
Setelah Rohman, Sukma melanjutkan estafet. Kesejukan udara datang bersama tanjakan yang menguras tenaga. Para pelari menggunakan sepatu yang sesuai untuk kebutuhan lari jarak jauh agar kaki tetap nyaman sepanjang perjalanan.
Andhika Prasetya mendapat bagian jalur Melrimba Garden Puncak Pass menuju Cianjur. Baginya, rute Puncak bukan hal asing, tetapi biasanya dia melewatinya dengan kendaraan.
"Ini jadi pengalaman pertama cobain 'wisata' yang nggak bisa di Puncak. Kalau biasanya naik kendaraan, kali ini lari. Nah ini unik juga lari estafet berdelapan dan saya kebagian jalur Melrimba Garden Puncak Pass ke Cianjur. Saya start jam setengah 09.00 dan finish jam 10.30," kata Dhika.
"Tantangan di sini adalah turunan panjang yang menuntut saya ekstra hati-hati supaya kaki tidak terkilir. Sepanjang rute, banyak spot wisata yang saya lewati seperti Puncak Pass," lanjutnya.
Perjalanan Jakarta-Bandung dengan lari estafet bukan pilihan untuk semua orang, tetapi menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dari rute Whoosh, bus, atau kendaraan pribadi. Durasi idealnya dua hari satu malam, dengan Puncak sebagai titik istirahat sebelum tanjakan Cianjur. Informasi terkini soal jalur dan akomodasi dapat dikonfirmasi ke pengelola wisata setempat.