MAMUJU — Puluhan petugas gizi dari puskesmas se-Sulawesi Barat dibekali keterampilan khusus menangani kebutuhan gizi kelompok rentan saat bencana. Pelatihan selama lima hari ini menyasar lima peserta dari masing-masing enam kabupaten di provinsi tersebut.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa Sulbar merupakan daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Kondisi ini menuntut tenaga kesehatan yang sigap dan kompeten, terutama dalam memberikan pelayanan gizi pada kondisi darurat.
Kelompok Rentan Jadi Prioritas Utama
Dalam situasi bencana, bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia disebut sebagai kelompok yang paling berisiko mengalami masalah gizi. Menurut dr. Nursyamsi, tenaga gizi harus mampu memberikan pelayanan secara cepat, tepat, dan berkualitas meski dalam tekanan.
“Ketika terjadi bencana, kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami masalah gizi. Karena itu, tenaga gizi harus memiliki kemampuan yang memadai agar pelayanan tetap dapat diberikan secara cepat, tepat, dan berkualitas,” ujarnya.
Materi Pelatihan: Dari Manajemen Logistik hingga Surveilans Darurat
Selama pelatihan, peserta tidak hanya belajar teori. Mereka dibekali materi manajemen gizi dalam situasi bencana, penilaian status gizi kelompok terdampak, hingga pengelolaan bantuan pangan dan logistik gizi.
Surveilans gizi darurat dan penguatan koordinasi lintas sektor dalam penanganan kebencanaan juga menjadi bagian dari kurikulum. Semua materi dirancang agar petugas puskesmas siap diterjunkan kapan pun bencana terjadi.
Investasi SDM untuk Sistem Kesehatan Tangguh
Pelatihan ini merupakan bagian dari visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka. Pembangunan sumber daya manusia unggul menjadi prioritas utama daerah.
“Penguatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan investasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan responsif terhadap berbagai kondisi kedaruratan,” tambah dr. Nursyamsi.
Ia berharap para peserta mampu menjadi motor penggerak di wilayah masing-masing. Dengan begitu, kebutuhan gizi masyarakat terdampak bencana dapat terpenuhi secara optimal dan berkelanjutan.
Pelatihan ini menjadi langkah awal. DKPPKB Sulbar menargetkan lahirnya tenaga gizi yang profesional dan responsif, siap diterjunkan kapan pun dibutuhkan.