SULAWESI BARAT — Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, memaparkan ketiga inovasi tersebut dalam acara Stakeholder Consultation Regional Maluku untuk Rancangan Rencana Umum Energi Nasional 2026–2035, Rabu (15/7). Menurutnya, teknologi yang dikembangkan adalah PLT Pikohidro very low head 3 kW, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Modular, dan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Laut.
Listrik dari Aliran Air Tanpa Bendungan Raksasa
Inovasi pertama, PLT Pikohidro very low head, dirancang untuk desa-desa yang memiliki sungai atau saluran air kecil. "Teknologi ini dinilai sesuai karena tidak memerlukan pembangunan bendungan besar, sehingga lebih ramah lingkungan dan mudah diterapkan di wilayah kepulauan," jelas Cuk secara daring. Dengan kapasitas 3 kW, sistem ini bisa menjadi solusi bagi dusun terpencil yang selama ini tidak terjangkau jaringan PLN.
Sementara itu, PLTP Modular dikembangkan untuk memanfaatkan potensi panas bumi skala kecil. Selama ini, sumber panas bumi berkapasitas rendah sering dianggap tidak ekonomis jika menggunakan pembangkit konvensional. Teknologi modular ini memungkinkan eksploitasi sumber daya tersebut secara lebih efisien dan bertahap.
Memanfaatkan Gelombang Laut untuk Pulau Terisolasi
Teknologi ketiga menyasar potensi energi laut yang melimpah di Indonesia. BRIN mengembangkan pembangkit yang memanfaatkan gelombang, arus, dan pasang surut sebagai sumber energi bersih. "Inovasi ini dinilai memiliki prospek besar untuk mendukung penyediaan listrik di pulau-pulau kecil yang selama ini masih bergantung pada pembangkit berbahan bakar fosil," tegas Cuk.
Data BRIN menunjukkan, Maluku Utara memiliki potensi mini dan mikrohidro mencapai 24 MW, dengan potensi teknis regional mencapai 1,5 GW. Namun, pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar harus memperhatikan musim kemarau, sedimentasi, dan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS). Oleh karena itu, teknologi ini dinilai lebih cocok diterapkan di pulau besar berpegunungan seperti Seram, Buru, dan Halmahera.
Sistem Kelistrikan Berbasis Potensi Lokal
Cuk menegaskan, sistem kelistrikan di wilayah kepulauan harus berbasis potensi lokal. Maluku, misalnya, memiliki potensi surya yang tersebar di hampir seluruh wilayah. Wilayah ini sangat cocok untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri maupun sistem hibrida yang dikombinasikan dengan battery energy storage.
"Dengan dukungan riset, implementasi EBT diharapkan menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan," ujar Cuk. BRIN optimistis ketiga teknologi ini bisa menjadi solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan pada BBM di daerah terpencil dan mendukung target bauran energi nasional yang lebih hijau di masa depan.