Pencarian

Antrean Jual GOTO Capai 419 Juta Lot, Saham Terjebak di Rp 50 Usai Dikeluarkan dari MSCI

Kamis, 20 Agustus 2026 • 17:56:01 WIB
Antrean Jual GOTO Capai 419 Juta Lot, Saham Terjebak di Rp 50 Usai Dikeluarkan dari MSCI
Antrean jual saham GOTO mencapai 419 juta lot dengan harga terpaku di Rp 50 setelah saham tersebut dikeluarkan dari indeks MSCI Indonesia.

SULAWESI BARAT — Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 14.17 WIB, volume saham GOTO yang diperdagangkan baru mencapai 8,67 juta saham dengan nilai transaksi Rp 433,48 juta. Kapitalisasi pasar perseroan saat ini tercatat Rp 57,03 triliun. Secara year to date (ytd), harga saham GOTO sudah anjlok 21,88%.

Dana Asing Berpotensi Keluar Rp 1 Triliun

Keluarnya GOTO dari indeks MSCI Indonesia Investable Market Index memicu kekhawatiran arus dana asing keluar. MSCI menetapkan harga sistem terendah sebesar 0,00001 dari mata uang harga saham tersebut sebagai dasar perhitungan indeks, menyusul likuiditas yang dinilai rendah dan menyulitkan investor mereplikasi kinerja indeks.

Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, memperkirakan dana pasif yang keluar bisa mencapai sekitar Rp 1 triliun. Nilai itu setara dengan 20 miliar saham atau sekitar 2% dari total kepemilikan asing di GOTO. Adapun kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia berpotensi turun hingga 6%.

Fundamental Membaik di Tengah Harga yang Tertekan

Di balik pergerakan harga yang stagnan, kinerja keuangan GOTO justru menunjukkan perbaikan signifikan. Hingga semester pertama 2026, perseroan membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 607,49 miliar. Angka ini berbalik positif dari rugi Rp 580,01 miliar pada periode yang sama tahun lalu, atau melonjak 204,7% secara tahunan.

Pendapatan GOTO juga tumbuh 28,4% year on year (YoY) menjadi Rp 10,9 triliun hingga Juni 2026, dibandingkan Rp 8,55 triliun pada periode sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh seluruh segmen bisnis utama perseroan.

Segmen On-Demand dan Fintech Jadi Penopang Utama

Segmen on-demand services (Gojek) mencatatkan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 464 miliar, meningkat 41% YoY. Pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp 3,6 triliun dengan jumlah pesanan yang diselesaikan tumbuh 3% YoY dan 8% secara kuartalan. Nilai transaksi bruto (GTV) naik 2% YoY menjadi Rp 16,7 triliun.

Margin di segmen delivery meningkat menjadi 2,1% dari sebelumnya 1,8%, sementara margin mobility naik ke 5,0% dari 3,0%. Perseroan menyatakan tetap memprioritaskan peningkatan margin menjelang penerapan aturan komisi 8% yang baru. Strategi ini didukung oleh kenaikan jumlah pengguna dengan tingkat pengeluaran sangat tinggi sebesar 21% dibandingkan tahun lalu.

Di sisi fintech, GoPay membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 481 miliar atau melonjak 447% secara tahunan. Pendapatan bersih segmen ini juga meningkat 53% YoY menjadi lebih dari Rp 2,0 triliun.

Fokus ke Produk Terjangkau Usai Aturan Komisi Baru

Seiring implementasi kebijakan komisi 8%, GOTO akan mengalihkan fokus ke produk yang lebih terjangkau dan memiliki frekuensi penggunaan tinggi. Investasi pada segmen pasar massal atau mass market mulai menunjukkan hasil, meskipun perseroan tetap mengandalkan pelanggan dengan pengeluaran tinggi sebagai pendorong utama kinerja.

Investasi mengandung risiko.

Follow halosulbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks