MAMASA — Evakuasi Jamuddin, warga Dusun Pao-Pao, Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, tidak berjalan normal. Tidak ada ambulans yang datang menjemput. Jalur darat yang rusak parah memaksa tetangga dan keluarganya menandu pria tersebut sejauh tujuh kilometer menuju Dusun Kata-Kata.
Setibanya di kawasan Kawalean, warga yang kelelahan menandu baru bisa bernapas lega. Sebuah mobil pribadi milik warga setempat bersedia menampung Jamuddin dan melarikannya ke Puskesmas Mehalaan.
Puskesmas Diminta Kirim Ambulans, Keluarga Sebut Armada Rusak
Keluarga pasien mengaku sudah menghubungi Puskesmas Mehalaan sejak sehari sebelum evakuasi. Mereka meminta bantuan armada medis untuk menjemput Jamuddin yang membutuhkan penanganan mendesak.
Harapan itu tidak terwujud. Amran, perwakilan keluarga pasien, mengatakan pihak puskesmas memberi alasan armadanya tidak bisa beroperasi.
“Sudah kami hubungi kemarin, tapi katanya ambulans sedang rusak,” kata Amran, Rabu, 16 September 2026.
Jalan Provinsi yang Menghubungkan Mamasa-Polman Dinilai Tak Lagi Layak
Ruas yang dilalui warga sejatinya berstatus jalan Provinsi Sulawesi Barat. Jalur itu menghubungkan Kabupaten Mamasa dengan Kabupaten Polewali Mandar.
Kondisi di lapangan jauh dari statusnya. Di berbagai titik, lebar jalan menyempit akibat terkikis erosi. Permukaan jalan didominasi batu besar dan tanah bergelombang, bahkan kerap terlihat seperti alur sungai kering. Kendaraan roda empat mustahil melintas.
Bukan Sekadar Ketidaknyamanan Berkendara
Bagi warga pelosok Mamasa, buruknya infrastruktur jalan bukan lagi urusan ketidaknyamanan berkendara. Akses yang hancur menjelma pertaruhan nyawa dan menyeret hak paling mendasar masyarakat, yakni kepastian mendapat pertolongan medis saat kritis.
Kasus Jamuddin memotret persoalan yang lebih besar. Infrastruktur jalan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas warga justru berubah menjadi penghambat utama saat kondisi darurat.
Desakan Pembenahan Rute Interkoneksi Antarkabupaten
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat kini didesak mengambil langkah pembenahan rute interkoneksi antarkabupaten tersebut. Bagi masyarakat di garis terdepan pelosok Mamasa, perbaikan jalan bukan lagi soal kemudahan ekonomi semata.
Perbaikan jalan disebut sebagai benteng terakhir yang menentukan batas antara keselamatan dan ancaman jiwa. Tanpa pembenahan, warga di dusun-dusun terpencil terus menanggung risiko yang sama setiap kali sakit datang.