Pencarian

9 Film yang Soroti Tekanan Sosial Keluarga, dari Mustang hingga Joyland

Kamis, 17 September 2026 • 15:19:01 WIB
9 Film yang Soroti Tekanan Sosial Keluarga, dari Mustang hingga Joyland

SULAWESI BARAT — Sembilan film dari berbagai negara mengangkat tema tekanan sosial dalam keluarga, mulai dari tuntutan menikah hingga beban menjaga nama baik. Film-film ini menampilkan konflik yang terasa dekat dengan kehidupan nyata, ketika pilihan pribadi harus berhadapan dengan tradisi dan ekspektasi lingkungan. Mulai dari produksi Norwegia hingga Pakistan, berikut daftarnya.

Keluarga sering dianggap sebagai tempat paling nyaman untuk pulang. Namun dalam kondisi tertentu, keluarga justru bisa menjadi sumber tekanan ketika pilihan pribadi harus berhadapan dengan tradisi, reputasi, dan pandangan tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup.

Sejumlah film mengangkat situasi semacam ini karena konfliknya terasa dekat dengan kehidupan nyata. Tekanan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk larangan terang-terangan. Ada yang datang lewat pertanyaan soal pernikahan, tuntutan menjadi anak yang membanggakan, kewajiban menjaga nama baik keluarga, hingga standar sosial mengenai perempuan dan laki-laki.

1. What Will People Say (2017)

Film ini mengikuti Nisha, remaja keturunan Pakistan yang tinggal bersama keluarganya di Norwegia. Di luar rumah, Nisha menjalani kehidupan seperti remaja lain. Di rumah, ia harus mengikuti aturan keluarga yang jauh lebih konservatif.

Situasinya berubah drastis ketika ayahnya mengetahui kedekatannya dengan seorang laki-laki, sesuatu yang dianggap dapat mempermalukan keluarga di mata komunitas. Judul film ini secara langsung mencerminkan persoalan utamanya: kecemasan tentang apa kata orang yang akhirnya membatasi kehidupan seorang anak.

2. Mustang (2015)

Berlatar sebuah desa di Turki, Mustang menceritakan lima saudari yatim piatu yang tinggal bersama keluarga mereka. Suatu hari, kelima gadis itu bermain bersama teman laki-laki sepulang sekolah. Tindakan yang sebenarnya tidak berbahaya itu dianggap tidak pantas oleh lingkungan sekitar.

Setelah kabar tersebut sampai kepada keluarga, kebebasan kelima saudari itu dibatasi secara drastis. Rumah mereka perlahan berubah seperti tempat yang mengurung, sementara para gadis mulai diarahkan mempelajari pekerjaan domestik dan dipersiapkan menuju pernikahan.

3. Badhaai Do (2022)

Badhaai Do mempertemukan Shardul, seorang polisi gay, dengan Suman atau Sumi, seorang guru pendidikan jasmani lesbian. Keduanya hidup di tengah keluarga yang terus mendesak mereka untuk menikah dengan lawan jenis.

Demi mengurangi tekanan tersebut, Shardul dan Sumi sepakat melakukan pernikahan berdasarkan kesepakatan. Namun pernikahan ternyata tidak benar-benar menghentikan tuntutan keluarga. Setelah mereka dianggap memenuhi kewajiban menikah, muncul harapan berikutnya tentang kehidupan rumah tangga dan anak.

4. Joyland (2022)

Dalam Joyland, keluarga Rana hidup sebagai keluarga besar patriarkal di Lahore, Pakistan. Salah satu harapan terbesar keluarga tersebut adalah hadirnya bayi laki-laki yang dapat meneruskan garis keluarga.

Haider, putra termuda mereka, juga hidup dalam lingkungan yang memiliki gambaran tegas mengenai bagaimana seorang laki-laki dan suami seharusnya menjalani kehidupan. Ketika Haider memperoleh pekerjaan sebagai penari latar di sebuah pertunjukan dan semakin dekat dengan Biba, seorang perempuan transgender yang menjadi bintang pertunjukan tersebut, keinginannya mulai berbenturan dengan struktur keluarga yang selama ini mengatur kehidupannya.

5. Kim Ji-young, Born 1982 (2019)

Film ini diadaptasi dari novel laris karya Cho Nam-joo yang menjadi fenomena di Korea Selatan. Ceritanya mengikuti Kim Ji-young, perempuan yang menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga dan menghadapi berbagai bentuk tekanan sosial, mulai dari peran gender hingga ekspektasi keluarga.

Kim Ji-young, Born 1982 menyoroti bagaimana beban yang ditanggung perempuan sering dianggap hal biasa. Film ini sempat memicu perdebatan luas di Korea Selatan karena dianggap mencerminkan realitas yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Mengapa Tema Ini Terus Diangkat

Film-film di atas menunjukkan bahwa tekanan sosial dalam keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk konflik besar. Sering kali ia muncul lewat hal-hal kecil yang diulang terus-menerus: pertanyaan kapan menikah, tuntutan menjadi anak yang dianggap membanggakan, atau kewajiban menjaga nama baik keluarga.

Yang membuat film-film ini kuat adalah kemampuannya menempatkan penonton dalam posisi karakter. Kita diajak memahami mengapa seseorang bisa terjebak antara memenuhi harapan keluarga atau mempertahankan keinginannya sendiri.

Dari Norwegia hingga Pakistan, sembilan film ini membuktikan bahwa persoalan tekanan sosial dalam keluarga bukan fenomena satu negara. Ia adalah pergulatan universal yang terus relevan untuk dibicarakan, termasuk di Indonesia.

Follow halosulbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kapanlagi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks