Pencarian

Inflasi September 3,28%, Neraca Dagang Surplus USD 7,25 Miliar, PMI Manufaktur Kembali Ekspansi

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 12:48:31 WIB
Inflasi September 3,28%, Neraca Dagang Surplus USD 7,25 Miliar, PMI Manufaktur Kembali Ekspansi
Inflasi tahunan September 2026 tercatat 3,28 persen, masih dalam sasaran nasional 2,5 persen plus minus 1 persen.

SULAWESI BARAT — Inflasi Indonesia September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, masih di dalam sasaran nasional 2,5 persen plus minus 1 persen. Pada periode yang sama, neraca perdagangan Agustus membukukan surplus USD 3,55 miliar dan PMI Manufaktur naik ke 52,4 dari 49,8 sebulan sebelumnya. Tiga indikator yang dirilis 1 Oktober 2026 itu menggambarkan ekonomi nasional yang bertahan di tengah ketidakpastian global.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulanan September sebesar 0,30 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 2,17 persen. Inflasi inti berada di 2,84 persen secara tahunan, sementara kelompok administered prices mencatat 3,25 persen.

Kelompok volatile food justru menjadi sumber tekanan terbesar dengan inflasi 5,03 persen secara tahunan. BPS mengaitkan kenaikan itu dengan dinamika permintaan dan gangguan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, serta bencana alam.

Bank Indonesia menilai angka inflasi September masih berada dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Bank sentral menyebut pengendalian harga didukung sinergi kebijakan moneter dan koordinasi pemerintah pusat serta daerah melalui TPIP dan TPID.

Pemerintah Siapkan Bantalan Harga di Triwulan IV

Memasuki triwulan IV 2026, pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus menopang daya beli. Langkah itu mencakup penyaluran Program Keluarga Harapan Tahap III dan bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan untuk Oktober hingga Desember 2026.

Perum Bulog juga dipercepat menyalurkan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan beras medium. Pemerintah memperkuat stabilitas pasokan lewat Gerakan Pangan Murah, optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah, dan Kerja Sama Antar Daerah.

Dari sisi biaya, pemerintah mendorong efisiensi logistik dan mitigasi risiko imported inflation. Kebijakan yang sudah berjalan antara lain bea masuk 0 persen untuk LPG industri dan suku cadang pesawat, dengan persiapan kebijakan serupa untuk bahan baku plastik.

Surplus Dagang Agustus Melonjak jadi USD 3,55 Miliar

Neraca perdagangan Agustus 2026 mencatat surplus USD 3,55 miliar, melompat dari surplus USD 0,12 miliar pada Juli. Ini menjadi surplus dua bulan berturut-turut. Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, surplus mencapai USD 7,25 miliar.

Rinciannya, surplus nonmigas sebesar USD 28,54 miliar, sementara sektor migas masih defisit USD 21,29 miliar. Pada Agustus, surplus nonmigas naik menjadi USD 6,09 miliar dari USD 3,10 miliar, sedangkan defisit migas turun menjadi USD 2,54 miliar dari USD 2,98 miliar.

Pemerintah mengaitkan penurunan defisit migas dengan kebijakan ketahanan energi, termasuk implementasi B50 sejak 1 Juli 2026. Ekspor nonmigas Januari–Agustus ditopang kenaikan besi dan baja 4,88 persen menjadi USD 19,18 miliar, CPO dan turunannya 6,57 persen menjadi USD 17,75 miliar, serta batu bara 4,31 persen menjadi USD 16,58 miliar.

Ekspor industri pengolahan tumbuh 6,62 persen dan menjadi salah satu kontributor utama. Pemerintah menyebut capaian itu tidak lepas dari berlanjutnya proses hilirisasi.

Impor Bahan Baku dan Barang Modal Naik

Struktur impor masih didominasi bahan baku dan barang penolong sebesar USD 133,38 miliar serta barang modal USD 36,74 miliar. Kedua kelompok itu mencakup sekitar 91,3 persen dari total impor, sementara barang konsumsi hanya 8,7 persen.

Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis 15,26 persen serta mesin dan perlengkapan elektrik 22,94 persen dinilai mencerminkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan barang modal sejalan dengan aktivitas produksi serta investasi domestik.

PMI Manufaktur Cetak Perbaikan Terkuat

S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia September 2026 naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus. Angka di atas 50 menandakan sektor manufaktur kembali ke zona ekspansi setelah sebelumnya terkontraksi.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut capaian September sebagai perbaikan kondisi bisnis terkuat. Pemerintah menilai ketiga indikator—inflasi, neraca perdagangan, dan PMI—menjadi gambaran perkembangan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Bagi pelaku pasar, kombinasi inflasi yang terkendali dan surplus dagang yang melebar memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan suku bunga acuan. Sinyal ekspansi manufaktur juga menjadi indikasi awal bahwa permintaan domestik mulai pulih, meski tekanan pada kelompok pangan masih perlu dicermati hingga akhir tahun.

Follow halosulbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: batamtoday.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks