Pencarian

AGTI Minta Kepastian Kebijakan ke Menperin demi Geber Industri TPT

Minggu, 04 Oktober 2026 • 15:21:31 WIB
AGTI Minta Kepastian Kebijakan ke Menperin demi Geber Industri TPT
Sekretaris Jenderal AGTI Rizal Tanzil Rakhman meminta Menteri Perindustrian membuka ruang dialog bagi pelaku usaha tekstil dan produk tekstil.

SULAWESI BARAT — Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) meminta Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji membuka ruang dialog bagi pelaku usaha tekstil dan produk tekstil (TPT). Permintaan itu muncul setelah industri TPT tumbuh 3,55% sepanjang 2025 dan mencatat surplus dagang gabungan US$ 5,6 miliar pada Januari-Juli 2026. AGTI menilai kepastian kebijakan menjadi syarat utama sebelum pelaku usaha menambah investasi dan kapasitas produksi.

Permintaan itu disampaikan Sekretaris Jenderal AGTI, Rizal Tanzil Rakhman, melalui keterangan tertulis yang dikutip Minggu (4/10/2026). Menurut Rizal, pertumbuhan yang sudah dicapai perlu ditopang program nyata agar terasa langsung bagi pelaku usaha, mulai dari bertambahnya pesanan, kenaikan produksi, hingga kesempatan berinvestasi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 3,55% sepanjang 2025. Secara tahunan, sektor ini mencatat pertumbuhan 4,86% pada kuartal I dan 6,36% pada kuartal II.

Kulit dan Alas Kaki Tumbuh Lebih Kencang

Kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencatat laju lebih tinggi. Setelah tumbuh 3,31% sepanjang 2025, sektor ini naik 5,28% yoy pada kuartal I-2026 dan 11,30% pada kuartal II-2026.

Angka tersebut melampaui pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang sebesar 5,32% dan ekonomi nasional 5,29% pada periode yang sama. Pencapaian itu memperkuat posisi TPT dan alas kaki sebagai salah satu motor penggerak industri pengolahan.

"Angka ini memberi gambaran bahwa industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki masih punya ruang untuk tumbuh. Kami berharap perkembangan yang baik ini semakin terasa bagi pelaku usaha, baik melalui bertambahnya pesanan, meningkatnya produksi, maupun kesempatan untuk berinvestasi," kata Rizal.

Surplus Dagang US$ 5,6 Miliar dari Hulu ke Hilir

Sepanjang Januari-Juli 2026, industri tekstil dan pakaian jadi bersama industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki membukukan surplus perdagangan gabungan US$ 5,6 miliar. Rizal menilai capaian itu menunjukkan besarnya kontribusi kedua sektor terhadap perdagangan luar negeri Indonesia.

"Industri ini tidak hanya menghasilkan produk untuk kebutuhan masyarakat, tetapi juga memberikan pemasukan dari pasar ekspor. Potensinya masih besar. Karena itu, kami berharap dukungan terhadap pelaku usaha bisa terus berlanjut agar peluang yang ada dapat dimanfaatkan lebih luas," ujarnya.

Kepastian Kebijakan Jadi Pertimbangan Investasi

Rizal berharap Sarmuji melanjutkan dukungan terhadap industri sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha menyampaikan kebutuhan dan kendala di lapangan. Kepastian kebijakan, menurut dia, menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menyusun rencana usaha.

"Kami berharap Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dapat lebih terbuka dan menerima masukan-masukan dari industri, serta meneruskan dan memperkuat kebijakan yang sudah berjalan baik. Bagi pelaku usaha, kepastian itu penting karena rencana investasi dan pengembangan usaha tidak dibuat untuk satu atau dua bulan saja," terangnya.

Sejumlah tantangan masih membayangi industri TPT meski pertumbuhan menguat. AGTI menyoroti daya saing, biaya energi dan logistik, pembaruan mesin, ketersediaan bahan baku, hingga akses pasar sebagai persoalan yang perlu dibahas bersama pemerintah.

Dorongan agar Pemain Hulu dan Hilir Tumbuh Bersama

AGTI berharap pertumbuhan industri dirasakan di seluruh rantai usaha, dari hulu hingga hilir. Rizal menilai komunikasi antara pemerintah dan asosiasi penting agar kebijakan yang diberikan sesuai kebutuhan industri.

"Tentu masih ada tantangan yang dihadapi teman-teman di industri. Kami berharap komunikasi dengan pemerintah terus terjaga, sehingga persoalan di lapangan bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama. Dengan begitu, pertumbuhan ini bisa dirasakan oleh semakin banyak pelaku usaha," ujarnya.

Penguatan pemasok dalam negeri juga menjadi perhatian AGTI. Rizal mengatakan produsen bahan baku dan industri produk jadi perlu tumbuh bersama, diiringi ketersediaan bahan baku yang berkualitas, kompetitif, dan tepat waktu.

Asosiasi menyatakan siap menjadi mitra pemerintah dengan menyampaikan masukan dari pelaku usaha. Harapannya, pertumbuhan industri tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga mendorong investasi, memperluas pasar, dan menjaga lapangan kerja.

"Dengan pertumbuhan yang sedang menguat, kita memiliki momentum yang baik. Kami berharap di bawah kepemimpinan Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki dapat semakin kuat sebagai motor pertumbuhan industri nasional, penghasil devisa dan pencipta lapangan kerja," tutupnya.

Follow halosulbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks