SULAWESI BARAT — Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis 0,02% ke level Rp 17.917 per dolar AS pada perdagangan Selasa (6/10) pagi. Penguatan mata uang Garuda diperkirakan tetap terbatas seiring tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak mentah dunia yang membayangi pergerakan.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah terjadi setelah kinerja dolar AS terkoreksi akibat data ISM Service AS yang lebih lemah dari perkiraan. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa ruang apresiasi rupiah masih sempit.
"Penguatan diperkirakan terbatas oleh masih tingginya imbal hasil obligasi AS dan minyak mentah dunia," kata Lukman saat dihubungi, Selasa (6/10).
Investor Menanti Data Ekonomi Domestik Pekan Ini
Selain faktor eksternal, pelaku pasar masih menunggu sejumlah rilis data ekonomi domestik yang dijadwalkan pekan ini. Data tersebut mencakup cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, dan penjualan ritel.
"Investor juga masih wait and see menantikan rilis data ekonomi domestik pekan ini, di antaranya cadangan devisa, kepercayaan konsumen dan penjualan ritel," ujar Lukman.
Ketiga data itu menjadi penting karena memberi gambaran seberapa kuat daya beli rumah tangga dan stabilitas eksternal Indonesia di tengah tekanan global. Cadangan devisa, misalnya, menjadi indikator kemampuan BI menjaga stabilitas rupiah.
Politik AS Memanas, Sentimen Global Ikut Terbawa
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti faktor global lain yang mempengaruhi nilai tukar, yakni kondisi perpolitikan AS yang tengah memanas. Presiden AS Donald Trump memanfaatkan rapat umum di Ohio pada Sabtu untuk melontarkan serangan kasar terhadap Partai Demokrat.
Dalam rapat umum bagi para kandidat Republik, termasuk Senator AS Jon Husted dan kandidat gubernur Ohio Vivek Ramaswamy, Trump menjanjikan bantuan keuangan jika Partai Republik memenangkan pemilihan paruh waktu.
"Serta memperingatkan bahwa ia akan enggan bekerja sama dengan negara bagian tersebut jika Partai Demokrat yang menang," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (6/10).
Trump juga menegaskan sikapnya kepada pendukung. "Jika kalian melakukannya, kita akan menang-menang besar dan kita akan menghajar mereka habis-habisan," ujarnya.
Deretan Data AS yang Dicermati Pekan Ini
Ibrahim menuturkan, investor pekan ini akan mencermati sejumlah data dari AS yang bisa menggerakkan dolar. Data tersebut meliputi:
- ISM Services PMI
- Data ketenagakerjaan mingguan
- Rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir
- Data sentimen konsumen dari University of Michigan
Risalah FOMC menjadi yang paling ditunggu karena memberi petunjuk arah suku bunga Federal Reserve ke depan. Jika nada hawkish menguat, dolar AS berpotensi kembali menguat dan menekan rupiah.
Tekanan Eksternal Masih Dominan
Bagi pelaku pasar valas dan investor obligasi, kombinasi yield obligasi AS yang tinggi dan harga minyak mentah yang mahal menjadi dua faktor utama yang membatasi penguatan rupiah. Yield AS yang tinggi menarik dana asing keluar dari pasar emerging, sementara minyak mahal menekan neraca perdagangan Indonesia sebagai importir neto.
Pergerakan rupiah hari ini akan sangat bergantung pada arus masuk dana asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan hasil rilis data domestik. Tanpa katalis positif yang kuat, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap tipis sepanjang sesi.