SULAWESI BARAT — General Intuition, startup yang baru berusia beberapa bulan, resmi mengumumkan pendanaan Seri A senilai $320 juta pada Kamis (pekan lalu). Putaran ini menempatkan valuasi perusahaan di angka $2,3 miliar — lompatan besar dari pendanaan awal $134 juta saat rilis Oktober tahun lalu. Total dana yang terkumpul kini mencapai $454 juta.
Startup ini merupakan spin-off dari Medal, platform berbagi klip video game milik CEO Pim de Witte. Ratusan juta jam konten yang diunggah gamer ke Medal menjadi bahan baku utama pelatihan AI. Namun, yang membedakan General Intuition dari pesaing bukanlah rekaman videonya — melainkan data aksi (action labels) yang tersemat di dalamnya.
"Kompetitor mencoba menyimpulkan aksi hanya dari video. Itu tidak cukup," ujar de Witte kepada TechCrunch saat demo di kantor pusat New York. Data tombol yang ditekan pemain — kapan, di mana, dan dalam urutan apa — memberi model pemahaman spasial-temporal yang lebih kaya: bagaimana bergerak dalam ruang dan waktu.
Saat memasuki lantai R&D, de Witte langsung menunjukkan monitor yang menampilkan agen AI bermain Fortnite tanpa henti selama 100 jam. Bukan manusia, melainkan model yang sama yang juga mengendalikan robot berkaki empat di ruangan yang sama. "Otak yang sama yang menggerakkan agen Fortnite juga menggerakkan robot ini," kata de Witte.
Robot raksasa mirip serangga itu berjalan mendekati jurnalis, mengelilinginya, lalu melanjutkan navigasi mandiri — sesekali menabrak kaki kursi atau tempat sampah, seperti balita yang baru belajar mengenali tubuhnya sendiri. Yang menarik: model AI untuk robot itu hanya perlu delapan menit data dunia nyata untuk disetel. Data itu dikumpulkan di jalanan, bukan di kantor tempat robot beroperasi.
De Witte kemudian menyodorkan laptop yang menjalankan world model General Intuition — lingkungan simulasi yang digenerate frame-by-frame, bukan oleh game engine tradisional. Saat jurnalis mencoba berjalan menembus tembok, model ini menolak. Dari jutaan jam gameplay, AI belajar bahwa tembok adalah rintangan, tangga untuk memanjat, dan bayangan memanjang seiring pergerakan matahari.
World model ini bukan produk jadi, melainkan "gym" — tempat latihan internal. Produk yang akan dijual adalah model agenik itu sendiri. "Kami melihat ini sebagai tahap pre-training masa depan. Satu model yang bisa merespons informasi di layar Fortnite dan mengambil aksi, tapi juga dinamika dunia nyata yang tidak bisa dilakukan LLM," jelas de Witte.
Vinod Khosla, pendiri Khosla Ventures, mengatakan ketertarikannya pada visi de Witte dan posisi data proprietary perusahaan. "Pada LLM, saat penalaran (reasoning) muncul, itu lompatan kuantum. Pada world model, lompatan kuantum adalah munculnya intuisi pada AI — kemampuan mirip intuisi manusia. Data aksi dan reaksi manusia dari game adalah kunci munculnya intuisi itu," ujar Khosla.
Mayoritas dana segar akan digunakan untuk memperbesar kapasitas komputasi melalui kerja sama dengan CoreWeave. General Intuition berencana fokus pada pre-training model versi berikutnya dan merilis API secara lebih luas pada akhir musim panas nanti.
Meski demonya impresif, General Intuition belum membuktikan modelnya bisa bekerja di dunia fisik dalam skala besar. Pendekatan serupa biasanya membutuhkan data dunia nyata dalam jumlah sangat besar yang mahal dan lambat dikumpulkan. Taruhan General Intuition: gameplay adalah jalan pintas yang bisa diskalakan. Investor pun tampak percaya pada taruhan itu.