SULAWESI BARAT — Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat lebih tajam, naik 0,5% ke level US$96,55 per barel. Mengutip Reuters, kenaikan terjadi di tengah kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan minyak akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
Pada Rabu (9/9), Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz. Serangan tersebut merupakan respons setelah Amerika Serikat (AS) menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan meningkatkan respons apabila serangan lebih lanjut dilakukan terhadap negaranya. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Analis ANZ Daniel Hynes menilai eskalasi serangan kedua pihak membuka peluang gangguan aliran minyak dari Teluk Persia dalam waktu yang belum bisa dipastikan.
"Serangan balasan yang dilakukan kedua pihak menunjukkan bahwa aliran minyak dari Teluk Persia kemungkinan akan tetap terganggu untuk waktu yang belum dapat diperkirakan," kata Hynes dalam catatan kepada klien.
Hynes menambahkan meluasnya konflik meningkatkan risiko gangguan pasokan yang lebih besar. Pasar minyak global sebelumnya sudah kesulitan menyesuaikan diri dengan hilangnya pasokan dari Timur Tengah.
"Meluasnya konflik mengancam risiko gangguan yang lebih dalam terhadap pasokan minyak yang sebelumnya sudah membuat pasar minyak kesulitan untuk menyesuaikan diri," ujarnya.
Kekhawatiran pasar tercermin dari langkah Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang menaikkan proyeksi harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan. Penyesuaian itu dilakukan karena persediaan minyak global terus menurun akibat hilangnya pasokan dari Timur Tengah.
Kenaikan proyeksi EIA menjadi sinyal bahwa tekanan harga minyak tidak akan cepat mereda. Pelaku pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan gangguan pasokan yang lebih panjang seiring eskalasi serangan terhadap kapal dan terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, harga minyak di atas US$100 per barel menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, penerimaan negara dari sektor migas berpotensi naik. Di sisi lain, subsidi energi dan beban impor minyak mentah berisiko membengkak, terutama jika nilai tukar rupiah melemah bersamaan.
Saham-saham sektor energi dan batu bara di BEI biasanya menjadi kandidat utama yang diuntungkan kondisi ini, sementara emiten transportasi dan manufaktur yang bergantung pada bahan bakar berpotensi tertekan. Investor perlu mencermati perkembangan di Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan karena menjadi penentu arah harga minyak jangka pendek. Investasi mengandung risiko.