MAMUJU — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Mamuju berada di level 112,81 pada Agustus 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan IHK Sulawesi Barat yang mencapai 111,92. Selisih inflasi antara Mamuju dan Majene mencapai 2,63 poin persentase, menunjukkan disparitas harga yang cukup lebar antardaerah di provinsi tersebut.
Mamuju vs Majene: Selisih Inflasi Capai 2,63 Poin
Data BPS yang dirilis pekan ini menunjukkan inflasi tahunan (year on year) Mamuju sebesar 3,90 persen, sementara Majene hanya 1,27 persen. Adapun dua wilayah pemantauan lainnya tidak disebutkan secara rinci, namun posisi Mamuju konsisten sebagai penyumbang utama inflasi regional.
Secara keseluruhan, inflasi Sulawesi Barat pada Agustus 2026 tercatat 2,29 persen. IHK provinsi naik dari 109,41 pada Agustus 2025 menjadi 111,92 pada Agustus tahun ini. Kenaikan ini masih dalam rentang target pemerintah, tetapi tetap menjadi perhatian karena tekanan harga di Mamuju lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di kisaran 2-3 persen.
Ikan dan Cabai Jadi Pemicu Utama Kenaikan Harga
BPS merinci sejumlah komoditas yang mendorong inflasi di Sulbar. Ikan layang, cakalang, tuna, bandeng, tongkol, dan kembung menjadi penyumbang terbesar dari kelompok perikanan. Cabai merah dan cabai rawit juga ikut menekan indeks harga, seiring masih tingginya permintaan menjelang akhir tahun.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan paling tinggi, mencapai 5,08 persen secara tahunan. Emas perhiasan turut berkontribusi karena harganya yang terus merangkak naik. Sementara itu, kelompok transportasi naik 3,75 persen, dan kesehatan naik 3,32 persen.
Andil Inflasi: Makanan, Transportasi, dan Perawatan Pribadi
Dari sisi andil, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi sumbangan terbesar terhadap inflasi tahunan Sulbar, yaitu 0,82 persen. Disusul transportasi sebesar 0,39 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,26 persen. Ini berarti lebih dari separuh inflasi provinsi berasal dari kenaikan harga pangan.
Secara bulanan, inflasi Sulawesi Barat pada Agustus 2026 hanya 0,11 persen, mengindikasikan tekanan harga relatif landai dalam satu bulan terakhir. Namun secara kumulatif sejak awal tahun (year to date), inflasi sudah mencapai 2,28 persen.
Penahan Laju Inflasi: Tomat, Beras, dan Telur Ayam
Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, beberapa bahan pangan justru mengalami penurunan. Tomat, beras, bawang merah, minyak kelapa, telur ayam ras, dan pisang tercatat menjadi penahan laju inflasi. Beras yang turun tipis memberikan sedikit ruang bagi daya beli masyarakat, meski efeknya belum cukup mengimbangi tekanan dari ikan dan cabai.
Tingginya inflasi di Mamuju kembali menjadi sorotan karena daerah ini berulang kali menempati posisi teratas sejak awal 2026. Jika tidak diikuti intervensi pasar yang memadai, tekanan harga di wilayah pesisir barat Sulawesi ini berpotensi menggerus daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah.
Pengendalian harga pangan, terutama komoditas perikanan dan cabai, menjadi kunci untuk menekan inflasi. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat kerja sama dengan Bulog dan mengoptimalkan pasar murah di tingkat kelurahan, khususnya menjelang momen permintaan tinggi seperti akhir tahun.