SULAWESI BARAT —
Mengapa Kuliner "Ekstrem" Thailand Terasa Familiar?
Saat berjalan-jalan di pasar malam Bangkok atau Chiang Mai, wisatawan Indonesia mungkin terkejut melihat jangkrik goreng atau udang mentah yang dijajakan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, banyak dari bahan-bahan ini sebenarnya tidak asing di lidah Nusantara.
Perbedaan utamanya hanya terletak pada penyebutan dan teknik memasak. Katak yang diolah menjadi swike di Indonesia, misalnya, di Thailand hadir sebagai Kob Thot. Serangga goreng yang akrab dipanggil Malaeng Thot di sana, memiliki saudara dekat dengan walang goreng atau ulat jati khas Gunungkidul, Yogyakarta.
Jadi, daripada dianggap menjijikkan, sajian-sajian ini justru memperlihatkan bagaimana dua negara Asia Tenggara berbagi kekayaan hayati dan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber pangan.
Tiga Hidangan Ekstrem dengan Sentuhan Familiar
Beberapa menu berikut mungkin terlihat menantang bagi sebagian orang, tapi sebenarnya punya basis bahan yang tidak jauh berbeda dari masakan harian di Indonesia.
Kob Thot (Katak Goreng) adalah camilan renyah yang menggunakan katak segar, digoreng hingga garing dengan bumbu rempah khas Thailand. Bagi pembaca Indonesia, bahan utamanya sudah dikenal luas lewat hidangan swike. Bedanya hanya pada komposisi bumbu yang lebih kental dengan pengaruh Thai.
Malaeng Thot (Aneka Serangga Goreng) adalah jamaknya penjaja makanan kaki lima di Thailand. Jenisnya bervariasi, mulai dari jangkrik, belalang, ulat sutra, hingga ulat bambu. Semua digoreng kering dan diberi taburan bumbu asin-gurih. Di Indonesia, kebiasaan mengonsumsi serangga juga tumbuh subur, seperti olahan ulat jati di Gunungkidul atau puthul goreng yang gurih.
Khai Mot Daeng (Telur dan Larva Semut) biasanya diolah menjadi sup bening, ditumis bersama kari, atau dicampur ke dalam omelet. Hidangan ini banyak ditemukan di kawasan Isan, Thailand timur laut. Di Indonesia, telur semut rangrang juga dikenal sebagai lauk pauk atau campuran masakan, terutama di daerah pedesaan.
Dua Varian Udang Mentah Berisiko Tinggi
Perhatian khusus perlu diberikan pada dua hidangan udang mentah yang populer di Thailand. Berbeda dengan hidangan sebelumnya yang melalui proses memasak, dua menu ini mengutamakan kesegaran bahan baku.
Goong Ten atau akrab dijuluki "dancing shrimp" menggunakan udang air tawar hidup yang langsung dicampur dengan air jeruk nipis, cabai, kecap ikan, dan rempah. Saat disajikan, udang masih bergerak-gerak karena perasan jeruk yang membuatnya "menari" di mangkuk.
Sementara itu, Goong Chae Nam Pla adalah udang mentah yang direndam dalam saus fermentasi ikan (nam pla) bersama bawang putih dan cabai. Meski sering diibaratkan mirip sashimi Jepang, bumbu lokalnya membuat rasa hidangan ini benar-benar khas Thailand.
Perlu ditekankan, mengonsumsi udang mentah memiliki risiko kesehatan serius, seperti infeksi bakteri atau parasit. Untuk traveler, sangat disarankan memastikan sumber udang benar-benar segar atau memilih alternatif yang sudah dimasak sempurna demi keamanan perut selama liburan.
Dari Ulat Bambu Hingga Sambal Serangga
Perjalanan kuliner ini berlanjut ke Rot Duan, yaitu ulat bambu goreng yang renyah di luar dan lembut di dalam. Penjualnya kerap membawa wadah berisi campuran aneka serangga, dan ulat bambu ini selalu jadi primadona karena teksturnya yang gurih.
Yang lebih unik adalah Maeng Da, yakni serangga air raksasa yang punya aroma kuat. Serangga ini bisa dinikmati dengan cara digoreng utuh, atau dihaluskan menjadi bahan utama nam phrik maeng da—sejenis sambal pedas yang sangat cocok dinikmati dengan nasi ketan atau sayuran segar. Jangan tertukar dengan Maeng Da Talay, istilah lain untuk belangkas atau horseshoe crab yang juga bisa diolah menjadi menu serupa.
Bagi wisatawan Indonesia, melihat deretan serangga dan katak di restoran Thailand mungkin terasa menantang. Namun, memahami bahwa kebiasaan ini adalah bagian dari budaya pangan lokal yang telah berlangsung turun-temurun bisa mengubah perspektif. Jika tertarik mencoba, mulailah dari versi gorengan seperti Kob Thot atau jangkrik—rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah sering dianggap paling ramah untuk pemula.
Perbandingan Singkat Menu Ekstrem Thailand dan Padanannya di Indonesia
| Hidangan Thailand | Bahan Utama | Padanan di Indonesia | | :--- | :--- | :--- | | Kob Thot | Katak goreng | Swike | | Malaeng Thot | Jangkrik, belalang, ulat | Walang goreng, ulat jati | | Rot Duan | Ulat bambu goreng | Ulat sagu (Papua) | | Khai Mot Daeng | Telur semut rangrang | Telur semut (masakan daerah) | | Maeng Da | Serangga air raksasa | Sambal tawon / bubuk serangga |
Kesimpulannya, eksplorasi kuliner ekstrem di Thailand bukan hanya soal keberanian mencicipi, tetapi juga membuka wawasan bahwa banyak bahan pangan di Asia Tenggara memiliki akar tradisi yang serupa. Untuk pengalaman paling otentik dan aman, pilihlah penjual atau restoran yang jelas kebersihannya, dan jangan ragu bertanya langsung soal cara pengolahan hidangan yang akan Anda pesan.