Harga CPO Naik 1,74 Persen Sepekan, Tertekan Minyak Nabati Pesaing

Penulis: Qodri Anwar  •  Minggu, 20 September 2026 | 12:51:01 WIB

SULAWESI BARAT — Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat 1,74 persen sepanjang pekan meski ditutup melemah 0,77 persen menjadi 4.898 ringgit Malaysia per metrik ton pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Penurunan harga minyak nabati pesaing di bursa Dalian dan Chicago menekan kontrak acuan CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange. Pergerakan ini penting bagi pelaku industri sawit nasional karena CPO menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia.

Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0,77 persen ke level 4.898 ringgit Malaysia per metrik ton pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Meski begitu, secara mingguan kontrak tersebut masih mencatat kenaikan 1,74 persen. Pelemahan harian terjadi di tengah tekanan jual yang melanda pasar komoditas secara luas di Asia.

Penurunan harga minyak nabati pesaing menjadi pemicu utama. Harga minyak kedelai paling aktif di bursa Dalian turun 1,57 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah 2,14 persen. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga turun 0,77 persen. Harga minyak mentah yang melemah menambah beban bagi CPO.

Tekanan Jual di Pasar Asia

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur menyebut tekanan jual melanda hampir seluruh pasar komoditas selama perdagangan di Asia. "Kontrak berjangka FCPO tetap berada di zona negatif pada Jumat, mencerminkan tekanan jual di pasar komoditas secara luas selama perdagangan di Asia," kata trader tersebut, seperti dikutip Reuters.

Meski demikian, penguatan mingguan 1,74 persen menunjukkan CPO masih punya daya tahan di tengah gejolak harga minyak nabati global. Kontrak berjangka FCPO menjadi acuan bagi pelaku pasar sawit, termasuk eksportir dan produsen di Indonesia.

Mengapa Harga CPO Ikut Minyak Nabati Lain

Harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena keduanya bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global. Ketika harga minyak kedelai di Dalian atau Chicago turun, permintaan terhadap CPO bisa tergerus karena pembeli beralih ke alternatif yang lebih murah. Sebaliknya, ketika harga pesaing naik, CPO menjadi lebih kompetitif.

Dinamika ini membuat pelaku industri sawit nasional perlu mencermati pergerakan bursa Dalian dan Chicago, bukan hanya pasokan dan permintaan domestik. Pergerakan harga minyak mentah juga berpengaruh karena CPO kerap dikaitkan dengan produksi biodiesel yang bersaing dengan solar berbasis minyak bumi.

Dampak ke Industri Sawit Indonesia

Indonesia merupakan produsen CPO terbesar dunia. Fluktuasi harga di Bursa Malaysia Derivatives Exchange kerap menjadi rujukan bagi harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani dan harga jual eksportir. Kenaikan mingguan 1,74 persen menjadi sinyal positif di tengah tekanan harian, meski pelaku usaha tetap waspada terhadap pelemahan minyak nabati pesaing.

Bagi petani sawit, pergerakan harga CPO pekan ini bisa menjadi acuan dalam menentukan waktu penjualan TBS. Sementara bagi eksportir, selisih harga antara CPO dan minyak kedelai menjadi pertimbangan dalam menyusun kontrak pengiriman Desember.

Pasar masih akan dibayangi pergerakan minyak nabati pesaing dan harga minyak mentah dalam beberapa pekan ke depan. Kenaikan 1,74 persen sepanjang pekan menjadi modal, tetapi tekanan jual di pasar Asia menunjukkan volatilitas belum berakhir.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top