SULAWESI BARAT — Nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 17.790 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (21/9), tertekan kenaikan imbal hasil obligasi AS menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.700–Rp 17.850 per dolar AS sepanjang hari ini.
Pantauan pasar hingga pukul 09.22 menunjukkan rupiah bergerak tipis di level Rp 17.788 per dolar AS, menguat 0,17% atau 30 poin dari posisi pembukaan. Pergerakan ini terjadi setelah perdagangan sebelumnya ditutup di Rp 17.758 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Kondisi ini memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Mata Uang Negara Berkembang
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor utama yang membebani rupiah menjelang RDG Bank Indonesia yang dijadwalkan Rabu mendatang.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed," kata Lukman.
Menurutnya, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter The Fed serta respons Bank Indonesia dalam RDG mendatang. Ekspektasi terhadap suku bunga AS memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi dan aliran modal di pasar negara berkembang.
"Ini memberikan tekanan pada BI menjelang RDG BI Rabu ini," ujarnya.
Rentang Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.700–Rp 17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan volatilitas yang masih tinggi seiring ketidakpastian arah kebijakan The Fed.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, pelemahan rupiah menambah tekanan biaya impor dan bahan baku. Sementara investor obligasi negara perlu mencermati pergerakan imbal hasil sebagai indikator arus modal asing.
Fokus Pasar: RDG Bank Indonesia dan Sinyal The Fed
RDG Bank Indonesia menjadi agenda utama yang dinantikan pelaku pasar pekan ini. Keputusan suku bunga BI akan menjadi sinyal seberapa agresif bank sentral menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
Di sisi lain, pasar masih menunggu kejelasan arah kebijakan The Fed. Setiap sinyal hawkish dari pejabat Fed berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.