SULAWESI BARAT — Pelemahan hari ini memperpanjang tren negatif rupiah yang sejak awal tahun sudah terkoreksi 6,25%. Posisi ini melampaui level terendah sebelumnya yang tercatat saat krisis 1998 dan tekanan pandemi 2020.
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap greenback, meski rupiah menjadi yang paling dalam koreksinya. Rupee India turun 0,04%, yuan China melemah 0,01%, won Korea Selatan ambles 0,74%, baht Thailand terkoreksi 0,18%, dolar Singapura turun 0,09%, dan yen Jepang melemah 0,08%.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan ada dua faktor utama yang saling tarik menarik di pasar hari ini. Pertama, meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran. Sentimen ini seharusnya positif bagi mata uang emerging market.
“Namun, pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah,” ujar Lukman. Faktor kedua yang justru menahan penguatan rupiah adalah antisipasi pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Pasar memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan dalam RDG pekan ini demi menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal. Ironisnya, ekspektasi kenaikan bunga ini justru membuat pelaku pasar cenderung wait and see.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi,” kata Lukman. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS sepanjang hari ini.
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah biasanya berimbas pada sektor yang memiliki utang dolar besar seperti properti dan infrastruktur. Sementara eksportir komoditas seperti batu bara dan sawit justru diuntungkan karena pendapatan dalam dolar. Pelaku bisnis yang bergantung pada bahan baku impor harus bersiap menghadapi kenaikan biaya produksi dalam beberapa pekan ke depan.
Lukman melihat potensi penguatan terbatas masih terbuka jika tekanan geopolitik benar-benar mereda dan hasil RDG BI sesuai ekspektasi pasar. Namun, selama dolar AS masih perkasa dan fundamental domestik belum menunjukkan perbaikan signifikan, rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek.