SULAWESI BARAT — PSG memastikan diri sebagai klub pertama yang menjuarai Liga Champions dua musim berturut-turut sejak Real Madrid pada 2017 dan 2018. Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan dominasi mereka di Eropa setelah musim lalu mengalahkan Bayern Munich di partai final.
Laga berjalan ketat sejak menit awal. Arsenal tampil agresif di depan pendukung sendiri, namun PSG menunjukkan pengalaman di panggung final. Kedua tim saling jual-beli serangan, tetapi penyelesaian akhir masih mentah hingga babak pertama usai tanpa gol.
Babak kedua dan perpanjangan waktu tak mengubah papan skor. Wasit kemudian meniup peluit panjang dan pertandingan harus ditentukan dari titik putih. Eksekutor pertama hingga keempat dari kedua tim sukses menjalankan tugasnya.
Namun, petaka datang bagi Arsenal di momen krusial. Gabriel, bek tengah andalan The Gunners, gagal menuntaskan tugasnya sebagai penendang kelima. Tendangan Gabriel mampu dibaca kiper PSG, Gianluigi Donnarumma, yang terbang sempurna ke sisi kanan gawang.
“Gabriel misses key penalty as PSG win Champions League,” tulis laporan resmi pertandingan.
Kegagalan Gabriel memicu selebrasi liar kubu PSG. Donnarumma kembali menjadi pahlawan di final, mengulangi perannya saat mengantarkan Italia juara Euro 2020. Untuk Arsenal, kekalahan ini menjadi pahit mengingat mereka tampil impresif sepanjang turnamen.
Gelar ini menjadi yang ketiga kalinya bagi PSG sepanjang sejarah klub. Sebelumnya, Les Parisiens menjuarai edisi 2019/2020 dan 2022/2023. Kemenangan di London juga mempertegas status mereka sebagai salah satu raksasa baru sepak bola Eropa.
Bagi Arsenal, hasil ini menjadi tamparan keras. Mikel Arteta harus segera mengevaluasi mental timnya di momen krusial. The Gunners sudah lama tidak merasakan gelar Liga Champions, terakhir kali pada musim 2003/2004, era The Invincibles.
PSG kini berhak membawa pulang trofi Si Kuping Besar ke Paris. Sementara Arsenal harus menunggu musim depan untuk kembali mencoba peruntungan di kompetisi tertinggi Eropa.