Sigma dikenal gemar merilis kamera dengan pendekatan desain yang, sebut saja, eksentrik. Tahun lalu mereka memperkenalkan BF, yang melanjutkan tradisi tersebut. Alih-alih bersaing dengan kamera full-frame kelas atas dari Sony, Canon, atau Nikon, Sigma justru membangun lapangan bermainnya sendiri. Nama "BF" sendiri diambil dari frasa "beautiful foolishness," sebuah kutipan dari puisi dalam The Book of Tea yang langsung menggambarkan tujuan kamera ini.
Ketiadaan fitur standar seperti slot kartu memori, jendela bidik, dan rana mekanis adalah keputusan desain yang paling berani. Sigma BF mengandalkan sepenuhnya pada penyimpanan internal dan kontrol sentuh untuk navigasi. Bagi Sigma, ini bukanlah kekurangan, melainkan sebuah pernyataan: bahwa kamera ini tidak dibuat untuk efisiensi kerja, melainkan untuk kenikmatan murni menggunakan alat itu sendiri.
“Saya memiliki koleksi pesawat tangan antik yang sangat jarang saya gunakan, tetapi mereka terlihat sangat bagus dipajang. Saya mengerti,” tulis reviewer yang telah menggunakan kamera ini selama berbulan-bulan, menggambarkan filosofi di balik BF. Desain ini memang punya konsekuensi, dan salah satu yang terbesar adalah bahwa Sigma BF bisa menjadi sangat membuat frustrasi ketika Anda benar-benar ingin mengambil gambar.
Sigma BF adalah kamera yang sempurna untuk orang yang lebih suka menggunakan kamera daripada menikmati hasil foto. Ini bukanlah sebuah hinaan, melainkan sebuah kenyataan bahwa perangkat ini lebih cocok sebagai barang koleksi atau alat meditasi visual ketimbang alat kerja. Kamera ini tidak mencoba bersaing dalam hal spesifikasi teknis, melainkan dalam hal pengalaman dan filosofi.
Ketiadaan rana mekanis, misalnya, berarti kamera ini bekerja dengan senyap total, tetapi juga membatasi kemampuannya dalam memotret subjek bergerak cepat. Tanpa jendela bidik, pengguna harus bergantung sepenuhnya pada layar belakang, yang bisa menjadi masalah di bawah sinar matahari terik. Semua ini adalah trade-off yang harus diterima oleh siapa pun yang tertarik dengan Sigma BF.
Hingga saat ini, Sigma belum mengumumkan harga resmi untuk pasar Indonesia. Sebagai gambaran, di pasar global kamera ini dibanderol dengan harga yang sebanding dengan kamera mirrorless kelas menengah. Dengan kurs estimasi Rp 16.000 per dolar AS, harga Sigma BF diperkirakan akan berada di kisaran harga yang cukup premium, mengingat pendekatan desainnya yang unik dan material bodi yang digunakan.
Ketersediaan di Indonesia juga masih belum jelas. Biasanya, produk-produk Sigma masuk ke pasar Indonesia melalui distributor resmi beberapa bulan setelah peluncuran global. Calon pembeli disarankan untuk memantau akun media sosial Sigma Indonesia atau menanyakannya langsung ke gerai kamera terdekat.
Pada akhirnya, sukses atau gagalnya Sigma BF sepenuhnya tergantung pada Anda. Apakah Anda termasuk dalam kelompok yang menikmati "kebodohan yang indah" ini, atau Anda lebih memilih alat yang efisien untuk menghasilkan karya? Jawabannya akan menentukan apakah kamera ini layak masuk ke dalam tas Anda.