SULAWESI BARAT — Pertandingan di Stadion Internasional Khalifa, Qatar, Senin (29/6/2026) malam, berubah menjadi panggung tunggal Haissem Hassan. Pemain berusia 24 tahun itu tampil tanpa beban menghadapi skuad bertabur bintang Argentina. Kecepatan dan dribelnya membuat bek lawan kerepotan sejak menit awal.
Hassan menjadi kreator gol kedua Mesir lewat assist terukur yang membuat timnya unggul 2-1. Ia nyaris mencetak gol individu spektakuler setelah melewati tiga pemain Argentina dari area sendiri, namun wasit menganulir gol tersebut.
Penampilannya baru mereda setelah ditarik keluar pada menit ke-73. Tanpa Hassan, intensitas serangan balik Mesir menurun drastis. Argentina pun mengambil alih kendali dan mencetak dua gol balasan untuk memastikan kemenangan.
Sebelum turnamen ini, nama Hassan nyaris tidak dikenal penggemar sepak bola global. Kariernya terbangun dari Chateauroux, Villarreal, CD Mirandes, Sporting Gijon, hingga kini memperkuat Real Oviedo di Segunda Division.
Musim 2025-2026 ia mencatat tiga assist dari 37 penampilan bersama Oviedo — statistik yang tidak mencolok. Namun, satu laga kontra Argentina mengubah persepsi banyak pihak terhadap kemampuannya.
Hassan adalah wajah baru di skuad senior Mesir. Sebelumnya, ia pernah membela timnas Prancis U-17 sebelum memilih memperkuat negara leluhurnya. Posisinya sebagai winger kanan berkaki kiri memberikan dimensi berbeda bagi permainan Mesir.
Karakter itu dinilai pas untuk mengisi celah regenerasi setelah era Mohamed Salon memasuki fase akhir. Satu pertandingan memang belum cukup menjadi tolok ukur, tapi penampilan Hassan menunjukkan ia punya kapasitas bersaing di level tertinggi.
Klub-klub Eropa dan Amerika disebut mulai memantau perkembangannya. Jika konsisten, nama Haissem Hassan bisa menjadi salah satu cerita besar dari Piala Dunia 2026.