MAMUJU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tidak ingin angka Tuberkulosis di daerahnya menjadi momok yang berkepanjangan. Melalui DKPPKB, mereka menggelar pelatihan khusus bagi sumber daya manusia kesehatan (SDMK) Puskesmas. Targetnya jelas: mempercepat eliminasi TBC pada 2030 lewat inovasi bernama Garatta TBC—Gerakan Terpadu Tuntaskan Tuberkulosis.
Pelatihan ini digelar bekerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar. Metodenya tidak konvensional. Tenaga kesehatan menjalani blended learning—kombinasi daring dan tatap muka—selama hampir dua pekan, tepatnya 12 hingga 24 Juli 2026.
Materi yang diberikan cukup komprehensif. Mulai dari deteksi dini, tata laksana kasus, investigasi kontak, terapi pencegahan TBC (TPT), hingga pengendalian infeksi. Tapi yang paling ditekankan adalah penguatan kolaborasi lintas sektor.
Kepala DKPPKB Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa penanggulangan TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. "Kolaborasi lintas sektor dan kemitraan menjadi kunci utama dalam mempercepat pencapaian target eliminasi TBC," ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh pemangku kepentingan harus bergerak secara terpadu—dari promotif, preventif, penemuan kasus, hingga pemberdayaan masyarakat. Inilah yang coba diwadahi oleh Garatta TBC.
Inovasi Garatta TBC dirancang sebagai pendekatan kolaboratif. Pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, hingga sektor swasta dilibatkan dalam satu gerakan. Tujuannya: menemukan kasus secara aktif, meningkatkan kepatuhan pengobatan, dan mengurangi stigma terhadap penyandang TBC.
Menurut dr. Nursyamsi, inovasi ini sejalan dengan Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis yang diamanatkan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021. "Kami ingin membangun gerakan bersama seluruh elemen masyarakat sehingga penanggulangan TBC tidak hanya menjadi program kesehatan, tetapi menjadi gerakan sosial yang melibatkan seluruh pihak," katanya.
Pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas SDM kesehatan di Sulawesi Barat. dr. Nursyamsi menyebutnya sebagai investasi penting dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat.
"Penguatan kapasitas SDMK melalui pelatihan ini sejalan dengan Panca Daya ketiga Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yaitu membangun Sumber Daya Manusia yang unggul dan berkarakter," ungkapnya.
Melalui pelatihan ini, diharapkan seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di wilayah kerja masing-masing. Kualitas pelayanan TBC di Puskesmas diharapkan semakin optimal, dan target eliminasi TBC di Sulawesi Barat pada 2030 bisa diwujudkan secara berkelanjutan.