SULAWESI BARAT — Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengonfirmasi tren pemulihan yang mulai terlihat di sektor properti. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) berada di level 110,89 pada kuartal II 2026, sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan kuartal I 2026 yang sebesar 0,62% yoy. Secara triwulanan, indeks tumbuh 0,26% qtq, berakselerasi dari kenaikan tipis 0,04% qtq pada periode sebelumnya.
Eskalasi harga tahunan utamanya ditopang oleh rumah tipe besar dengan indeks 108,41, tumbuh 0,68% yoy—meningkat signifikan dari 0,50% yoy di kuartal sebelumnya. Sementara itu, rumah tipe menengah mencatat pertumbuhan 0,40% qtq setelah sempat terkontraksi tipis 0,01% qtq pada triwulan lalu.
Berbeda dengan segmen besar, laju harga rumah tipe kecil justru melambat. Indeksnya berada di posisi 113,89 dengan pertumbuhan 0,49% yoy, turun dibanding 0,61% yoy pada kuartal I 2026. Secara triwulanan, harga rumah tipe kecil terkontraksi tipis 0,02% qtq.
Dari 18 kota besar yang disurvei bank sentral, sebanyak 10 kota mencatatkan peningkatan pertumbuhan IHPR secara tahunan. Banjarmasin menjadi kota dengan akselerasi tertinggi, tumbuh 1,29% yoy dari sebelumnya 0,52% yoy. Pekanbaru juga mencatat perbaikan signifikan dengan pertumbuhan 3,23% yoy, berbalik dari kontraksi 0,03% yoy pada kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, perlambatan terjadi di Padang yang tumbuh 0,63% yoy dan Balikpapan 1,19% yoy. Data ini menunjukkan pemulihan harga properti masih belum merata secara spasial.
Kinerja penjualan properti primer menunjukkan tren perbaikan yang membesar. Secara triwulanan, total penjualan melompat tumbuh positif 9,39% qtq, berbalik dari koreksi 7,69% qtq pada kuartal I 2026. Lonjakan ini digerakkan oleh penjualan rumah tipe kecil yang tumbuh 30,33% qtq dan rumah tipe besar yang melesat 24,41% qtq.
Secara tahunan, penjualan rumah tipe kecil hanya terkontraksi 2,88% yoy—membaik drastis dibanding penurunan 45,59% yoy pada kuartal sebelumnya. Rumah tipe besar bahkan berhasil berbalik tumbuh positif 13,08% yoy dari minus 8,03% yoy. Namun, penjualan rumah tipe menengah masih tertekan dengan kontraksi 10,51% yoy.
Bank Indonesia membeberkan sejumlah hambatan yang membebani aktivitas pengembangan properti. Kenaikan harga bahan bangunan menjadi rintangan terbesar dengan proporsi 27,10%, disusul tingkat suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 15,96%, dan permasalahan perizinan serta birokrasi 14,87%.
Tingginya porsi uang muka KPR menyumbang 11,53% hambatan, sementara beban perpajakan 9,75%. Rata-rata suku bunga KPR perbankan tercatat stabil di kisaran 7,44%.
Dengan suku bunga yang masih bertahan di level tersebut, daya beli konsumen terhadap properti tetap terbatas. Pemulihan penjualan yang mulai terlihat pada kuartal ini menjadi sinyal awal, namun masih rentan terhadap tekanan biaya material dan kebijakan moneter ke depan.