Pakar IPB: Karakter Geografis Bromo yang Menyerupai Kuali Membuat Api Sulit Diprediksi

Penulis: Puguh Triyono  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 18:07:01 WIB
Api yang membakar kawasan Gunung Bromo terlihat dari kejauhan dengan asap tebal membumbung tinggi.

SULAWESI BARAT — Bambang menjelaskan, karakter kawasan Gunung Bromo tidak bisa disamakan dengan wilayah lain. Area yang rentan terbakar umumnya berupa lahan terbuka dengan akumulasi bahan bakar mudah terbakar, seperti rumput kering dan semak belukar. Ketika api merambat ke zona berlereng dan didorong angin, proses penjalarannya semakin cepat dan sulit dikendalikan dengan peralatan terbatas.

"Kondisi geografis yang menyerupai bentuk kuali turut memengaruhi pola penjalaran api. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat pergerakan api sulit diprediksi. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika bahan bakar berupa vegetasi kering tersedia dalam jumlah besar," ujarnya, Kamis, 13 Agustus 2026.

Deteksi Dini dan Risiko Pemadaman dari Udara

Bambang menekankan bahwa kunci pencegahan kebakaran besar terletak pada deteksi dini dan kesiapan sarana pemadaman. Pemantauan terhadap indikasi titik api harus dilakukan sedini dan sepasti mungkin untuk menghentikan potensi api sebelum berkembang menjadi kebakaran besar. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan helikopter untuk pemadaman dari udara harus dilakukan dengan perhitungan cermat.

"Penggunaan helikopter juga harus dilakukan secara tepat agar embusan angin tidak justru memicu titik api baru," katanya.

Ancaman Ekologis bagi Vegetasi Khas Pegunungan

Jika kebakaran meluas, dampak ekologis yang perlu diwaspadai mencakup hilangnya tutupan permukaan tanah dan meningkatnya pemanasan permukaan yang mengganggu proses pemulihan ekosistem. Kawasan TNBTS memiliki vegetasi khas pada berbagai ketinggian, mulai dari puspa, rasamala, dan saninten di zona pegunungan bawah hingga cemara gunung, edelweis Jawa, dan cantigi di zona pegunungan atas.

Bambang menegaskan, padamnya api belum otomatis menjamin kawasan aman. Sistem pemantauan pascakebakaran tetap harus berjalan untuk memastikan tidak ada potensi titik api yang kembali menyala. Personel yang terlibat di lapangan juga perlu dibekali pengetahuan dasar pengendalian api agar tindakan mereka tidak justru memperbesar skala kebakaran.

"Pengendalian kebakaran harus dilakukan secara sungguh-sungguh, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran. Kebakaran besar tahun 2023 semestinya menjadi cermin untuk melakukan perubahan agar kejadian serupa tidak terulang," tuturnya.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top