Sharenting dan Privasi Anak: Tips Aman Unggah Foto Anak di Media Sosial

Penulis: Rendi Kusuma  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 16:20:01 WIB
Seorang ibu menunjukkan cara menyembunyikan wajah anak pada foto sebelum diunggah ke media sosial.

SULAWESI BARAT — Sebagai orang tua di era digital, Bunda mungkin sering merasa dilema. Di satu sisi, ingin rasanya membagikan foto lucu si kecil kepada keluarga dan teman di media sosial. Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan keamanan dan privasi anak di dunia maya yang semakin kompleks.

Sebuah penelitian dari Western Sydney University, Australia, menyebut istilah sharenting untuk kebiasaan orang tua berbagi konten tentang anak di internet. Tren ini kian meningkat seiring banyaknya platform media sosial. Namun, tahukah Bunda bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi jangka panjang?

Kenapa Menyembunyikan Wajah Anak Itu Penting?

Menutupi wajah anak dengan emoji, stiker, atau mengunggah foto dari belakang sering dianggap solusi praktis. Menurut peneliti kesejahteraan digital, Joanne Orlando, cara ini memang efektif melindungi anak dari web crawling—program bot yang menjelajahi dan mengategorikan konten di internet.

Di era kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang, risiko penyalahgunaan foto semakin nyata. Wajah anak bisa saja muncul dalam kreasi gambar yang dibuat orang lain tanpa izin. Dengan menyembunyikan wajah, Bunda turut mencegah platform media sosial mempelajari dan mengenali data biometrik si kecil.

Apa yang Tidak Bisa Dicegah dengan Menutupi Wajah Anak?

Meski wajah tertutup, informasi lain yang Bunda bagikan bisa menjadi celah bahaya. Nama sekolah, jam pulang, taman favorit, hingga alamat rumah adalah data sensitif yang bisa disalahgunakan orang tak bertanggung jawab.

Orlando juga mengingatkan soal detail pribadi anak, seperti kebiasaan mengompol. Informasi ini mungkin terdengar lucu untuk diceritakan, tapi bisa menjadi alat manipulasi. "Seseorang mungkin menghubungi anak dan berkata, 'Bunda menyuruh saya berbicara denganmu, ini tentang kamu yang sering mengompol'," jelasnya. Anak yang mendengar detail yang hanya diketahui orang tuanya akan percaya bahwa orang tersebut mengenalnya.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Meminta Izin Anak?

Pakar keamanan digital dari University of Queensland, Nicholas Carah, menyarankan orang tua mulai melibatkan anak dalam keputusan berbagi di media sosial. Anak yang sudah bersekolah atau bahkan sejak taman kanak-kanak, sudah memiliki pemahaman bahwa foto-foto tersebut bisa dilihat oleh nenek dan teman-temannya.

Dengarkan perasaan anak tentang konten yang akan Bunda unggah. Seiring bertambahnya usia, terus lakukan percakapan tentang informasi apa yang pantas dibagikan. Hormati keinginan anak jika mereka tidak ingin sesuatu tentang dirinya dipublikasikan.

Checklist Aman Sebelum Mengunggah Foto Anak

Sebelum menekan tombol unggah, ada baiknya Bunda memeriksa beberapa hal berikut:

  • Hindari menyebutkan nama lengkap anak di caption atau tag lokasi.
  • Jangan unggah informasi yang bisa mengidentifikasi anak, seperti ucapan ulang tahun dengan tanggal lahir, seragam sekolah, atau detail alamat rumah.
  • Perhatikan konten yang bersifat sensitif, seperti kondisi kesehatan, kepribadian, atau kebiasaan yang memalukan bagi anak.
  • Sadari bahwa foto yang diunggah bisa diubah, disebarluaskan, atau digunakan kembali tanpa izin Bunda.
  • Batasi pengaturan privasi akun dan kurasi daftar teman agar unggahan hanya dilihat orang-orang terpercaya.

Kesepakatan dalam keluarga juga penting. Jika Bunda sudah berhati-hati, pastikan kakek, nenek, atau pengasuh memahami aturan yang sama. Perbedaan persepsi bisa membuat foto anak tersebar tanpa sepengetahuan Bunda.

Pada akhirnya, keamanan anak di dunia digital adalah tanggung jawab bersama. Dengan langkah kecil yang konsisten, Bunda tetap bisa berbagi kebahagiaan tanpa mengorbankan privasi si kecil.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top