SULAWESI BARAT — Sebagai orang tua di era digital, Bunda mungkin sering merasa dilema. Di satu sisi, ingin rasanya membagikan foto lucu si kecil kepada keluarga dan teman di media sosial. Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan keamanan dan privasi anak di dunia maya yang semakin kompleks.
Sebuah penelitian dari Western Sydney University, Australia, menyebut istilah sharenting untuk kebiasaan orang tua berbagi konten tentang anak di internet. Tren ini kian meningkat seiring banyaknya platform media sosial. Namun, tahukah Bunda bahwa setiap unggahan memiliki konsekuensi jangka panjang?
Menutupi wajah anak dengan emoji, stiker, atau mengunggah foto dari belakang sering dianggap solusi praktis. Menurut peneliti kesejahteraan digital, Joanne Orlando, cara ini memang efektif melindungi anak dari web crawling—program bot yang menjelajahi dan mengategorikan konten di internet.
Di era kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang, risiko penyalahgunaan foto semakin nyata. Wajah anak bisa saja muncul dalam kreasi gambar yang dibuat orang lain tanpa izin. Dengan menyembunyikan wajah, Bunda turut mencegah platform media sosial mempelajari dan mengenali data biometrik si kecil.
Meski wajah tertutup, informasi lain yang Bunda bagikan bisa menjadi celah bahaya. Nama sekolah, jam pulang, taman favorit, hingga alamat rumah adalah data sensitif yang bisa disalahgunakan orang tak bertanggung jawab.
Orlando juga mengingatkan soal detail pribadi anak, seperti kebiasaan mengompol. Informasi ini mungkin terdengar lucu untuk diceritakan, tapi bisa menjadi alat manipulasi. "Seseorang mungkin menghubungi anak dan berkata, 'Bunda menyuruh saya berbicara denganmu, ini tentang kamu yang sering mengompol'," jelasnya. Anak yang mendengar detail yang hanya diketahui orang tuanya akan percaya bahwa orang tersebut mengenalnya.
Pakar keamanan digital dari University of Queensland, Nicholas Carah, menyarankan orang tua mulai melibatkan anak dalam keputusan berbagi di media sosial. Anak yang sudah bersekolah atau bahkan sejak taman kanak-kanak, sudah memiliki pemahaman bahwa foto-foto tersebut bisa dilihat oleh nenek dan teman-temannya.
Dengarkan perasaan anak tentang konten yang akan Bunda unggah. Seiring bertambahnya usia, terus lakukan percakapan tentang informasi apa yang pantas dibagikan. Hormati keinginan anak jika mereka tidak ingin sesuatu tentang dirinya dipublikasikan.
Sebelum menekan tombol unggah, ada baiknya Bunda memeriksa beberapa hal berikut:
Kesepakatan dalam keluarga juga penting. Jika Bunda sudah berhati-hati, pastikan kakek, nenek, atau pengasuh memahami aturan yang sama. Perbedaan persepsi bisa membuat foto anak tersebar tanpa sepengetahuan Bunda.
Pada akhirnya, keamanan anak di dunia digital adalah tanggung jawab bersama. Dengan langkah kecil yang konsisten, Bunda tetap bisa berbagi kebahagiaan tanpa mengorbankan privasi si kecil.