Review Asus ROG Gjallar: Soundbar Gaming Pertama Asus, Suara Oke tapi Mikrofonnya Gagal

Penulis: Surya Dinata  •  Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:20:01 WIB
Soundbar gaming perdana Asus, ROG Gjallar, tampil dengan desain kotak hitam minimalis dan aksen lightbar tipis khas ROG.

SULAWESI BARAT — Asus mencoba peruntungan di segmen audio premium dengan merilis soundbar gaming perdana mereka, ROG Gjallar. Produk ini hadir dengan konfigurasi 2.1.2 yang mencakup soundbar, subwoofer nirkabel 65W, dan sebuah pusat kendali audio dengan mikrofon beamforming. Pertanyaannya, apakah inovasi ini cukup untuk bersaing di kelas harga yang sudah ditempati oleh pemain mapan seperti Razer dan OXS?

Desain Boxy dan Branding yang Kurang Menawan

Secara visual, ROG Gjallar tampil dengan desain kotak yang sangat sederhana. Seluruh bodinya didominasi warna hitam dengan gril logam di bagian atas dan depan. Satu-satunya aksen yang menarik adalah lightbar tipis dengan logo ROG yang membelah bagian tengah soundbar secara diagonal.

Dengan dimensi 607 x 92 x 82 mm, soundbar ini cukup ringkas untuk diletakkan di bawah monitor. Namun, jika menggunakan kaki bawaan yang disertakan, tinggi bagian depannya menjadi sekitar 99 mm, sedikit lebih besar dari kompetitornya, OXS Thunder Pro+.

Subwoofer nirkabelnya juga mengusung desain yang sama, dengan logo "angry eye" khas ROG yang diembos pada gril logamnya. Sayangnya, untuk urusan estetika, Gjallar terasa kurang "hidup" dibandingkan produk ROG lainnya.

Konektivitas Lengkap dan Pusat Kendali yang Kontroversial

Dari segi port, Gjallar terbilang lengkap. Tersedia USB-C, HDMI 2.1 dengan eARC, optical-in, AUX 3.5mm, dan Bluetooth 5.3. Pengguna bisa dengan mudah menghubungkannya ke PC, konsol, hingga ponsel tanpa perlu bolak-balik mengganti kabel.

Asus juga menyertakan sebuah audio control hub yang terhubung ke soundbar via kabel USB-C. Hub ini memiliki kenop volume besar dengan layar LCD, tombol media, kontrol RGB, dan pengaturan EQ. Fitur yang paling menarik adalah mikrofon beamforming dengan teknologi Acoustic Echo Cancellation (AEC) yang diklaim mampu menyaring suara dari speaker agar suara pengguna lebih jelas saat voice chat.

Namun, klaim tersebut tidak terbukti dalam pengujian. Suara yang ditangkap mikrofon terdengar buram dan sering terpotong-potong, kemungkinan akibat algoritma pengurangan noise yang terlalu agresif. Mengatur tingkat pengurangan noise ke level terendah pun tidak banyak membantu. Ini menjadi nilai jual yang sia-sia, mengingat pengguna masih bisa memakai headset atau mikrofon eksternal.

Performa Audio: Bagus untuk Game, Kurang untuk Musik

Untuk urusan suara, ROG Gjallar menawarkan performa yang "cukup baik", tetapi tidak luar biasa. Dalam pengujian untuk game seperti Baldur's Gate 3 dan God of War: Ragnarok, detail audio berlapis dapat terdengar dengan jelas. Dukungan Dolby Atmos juga membantu menghasilkan arah suara yang presisi, meski soundstage-nya tidak terasa luas.

Sayangnya, performa tersebut tidak konsisten saat memutar musik. Vokal dalam lagu "Toxic" milik Britney Spears terdengar cukup jernih, tetapi soundstage pada lagu "Single Ladies" dari Beyonce terasa sempit dan datar. Mid-range juga sering terdengar sedikit dipaksakan, membuat beberapa genre musik terasa kurang nyaman didengar.

Untuk kustomisasi lebih dalam, pengguna harus menggunakan software berbasis web bernama Asus Gear Link. Melalui software ini, pengguna bisa mengatur EQ, level subwoofer, dan mode daya. Sayangnya, tidak ada opsi untuk merombak fungsi tombol pada control hub, yang terasa membatasi potensi perangkat kerasnya.

Dengan harga US$600 (sekitar Rp 9,9 juta), ROG Gjallar berada di posisi yang sulit. Harganya lebih mahal US$150 dibandingkan Razer Nommo V2 Pro yang juga punya subwoofer nirkabel dan control hub. Performa audionya yang tidak jauh berbeda dengan kompetitor membuat nilai tambah dari mikrofon yang gagal berfungsi optimal menjadi pertanyaan besar.

ROG Gjallar adalah soundbar yang membingungkan. Ia menawarkan kualitas suara yang solid untuk gaming dan konektivitas yang lengkap. Namun, desainnya yang membosankan, mikrofon yang tidak berguna, dan harganya yang tinggi membuat produk ini hanya cocok untuk penggemar berat ROG yang menginginkan satu set audio senada dengan perlengkapan gaming mereka, dan tidak keberatan mengorbankan fungsionalitas demi estetika.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: tomshardware.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top