Pencarian

DKPPKB Sulbar Perluas Program GARATTA TBC ke Pasangkayu, Kader Desa Jadi Ujung Tombak Penemuan Kasus

Jumat, 21 Agustus 2026 • 17:42:02 WIB
DKPPKB Sulbar Perluas Program GARATTA TBC ke Pasangkayu, Kader Desa Jadi Ujung Tombak Penemuan Kasus
Kader kesehatan berdiskusi dengan warga dalam sosialisasi program GARATTA TBC di Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Provinsi Sulawesi Barat menggencarkan program GARATTA TBC di Kabupaten Pasangkayu dengan melibatkan kader dan pemerintah desa secara aktif. Pendekatan ini mengubah pola penanggulangan Tuberkulosis dari sekadar mengandalkan fasilitas kesehatan menjadi gerakan berbasis komunitas untuk menemukan kasus lebih dini.

PASANGKAYU — Percepatan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Barat tidak lagi hanya bertumpu pada tenaga medis di puskesmas atau rumah sakit. Melalui program GARATTA TBC, DKPPKB Provinsi Sulbar mendorong desa dan warganya menjadi garda terdepan dalam menemukan kasus, mendampingi pasien, hingga memastikan pengobatan tuntas.

Program yang merupakan singkatan dari Gerakan Aktif Masyarakat dan Tenaga Kesehatan Terpadu dalam Penanggulangan Tuberkulosis ini disosialisasikan dalam pertemuan di Shey’s Corner Cafe, Kabupaten Pasangkayu, Rabu (19/8/2026).

Mengubah Pola Lama yang Pasif

Pengelola Program TBC DKPPKB Provinsi Sulbar, Harsalim, menjelaskan bahwa GARATTA TBC lahir dari kebutuhan untuk merombak pendekatan penanganan penyakit yang selama ini cenderung pasif. Masyarakat tidak lagi sekadar menjadi objek, melainkan subjek aktif dalam upaya eliminasi TBC.

“GARATTA TBC mendorong perubahan pendekatan dari yang sebelumnya lebih pasif menjadi gerakan aktif berbasis masyarakat. Desa dan warganya kini menjadi bagian penting dalam menemukan kasus, melakukan investigasi kontak, mendukung kepatuhan pengobatan, serta mencegah penularan TBC,” ungkap Harsalim.

Dalam sistem kolaboratif ini, masyarakat dan tenaga kesehatan bekerja dalam satu kesatuan. Kegiatannya mencakup penemuan kasus aktif, investigasi kontak serumah, pemantauan pengobatan, dukungan psikososial bagi keluarga, pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT), edukasi massal, hingga surveilans.

Kader Kesehatan: Motor Penggerak di Lapangan

Peran kader kesehatan menjadi kunci dalam implementasi program ini. Mereka bertugas mendampingi pasien selama menjalani pengobatan dan membantu tenaga medis melacak kasus-kasus baru yang mungkin tidak terdeteksi jika hanya mengandalkan kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Kehadiran kader di tengah masyarakat juga diharapkan mampu menekan stigma negatif terhadap penderita TBC. Stigma selama ini kerap menjadi penghalang utama bagi warga untuk memeriksakan diri atau mengakui status kesehatannya.

“Keberhasilan penanggulangan TBC bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan semata. Dibutuhkan kepedulian masyarakat untuk bersama-sama menemukan kasus lebih dini, memastikan pasien berobat sampai tuntas, dan memutus rantai penularan,” tegasnya.

Selaras dengan Visi Gubernur Suhardi Duka

Langkah agresif DKPPKB Sulbar ini sejalan dengan visi pembangunan Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera yang diusung Gubernur Suhardi Duka. Ketahanan kesehatan masyarakat menjadi fondasi utama untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di provinsi tersebut.

Ke depan, program GARATTA TBC ditargetkan tidak berhenti di desa-desa lokus percontohan. DKPPKB Sulbar berharap semangat gerakan ini dapat direplikasi dan diperluas ke seluruh pelosok Sulawesi Barat demi mempercepat target eliminasi TBC di tingkat provinsi. (Adv/Rls)

Follow halosulbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sorotanpena.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks