MAMUJU — Pengerjaan jembatan gantung di Desa Uhaemate, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, berlanjut ke tahap pengecoran balok angkur. Tahap ini menentukan seberapa kokoh konstruksi jembatan menahan beban dan guncangan saat nanti dipakai warga.
Kodim 1418/Mamuju menempatkan pengecoran balok angkur sebagai bagian krusial dari keseluruhan proses. Balok angkur berfungsi mengikat kabel utama jembatan ke pondasi, sehingga kekuatan sambungan menjadi penentu kestabilan bentang gantung.
Pada jembatan gantung, beban lalu lintas disalurkan melalui kabel ke titik angkur di kedua ujung bentang. Jika pengecoran balok angkur tidak rapi, kabel bisa bergeser dan memicu penurunan konstruksi.
Karena itu, pengawasan mutu beton dan posisi penulangan menjadi perhatian utama di lapangan. Pengerjaan tahap ini diklaim berjalan sesuai rencana.
Dandim 1418/Mamuju Kolonel Arm Andang Radianto mengatakan pembangunan jembatan merupakan bentuk komitmen TNI AD dalam membantu meningkatkan aksesibilitas masyarakat serta mendukung kelancaran aktivitas warga.
"Pembangunan jembatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, mempermudah mobilitas warga, serta memperlancar aktivitas ekonomi dan sosial. Kami terus mendorong agar pengerjaan berjalan dengan baik, mengutamakan kualitas konstruksi dan faktor keamanan," ujarnya.
Selama ini warga Desa Uhaemate bergantung pada akses penghubung terbatas untuk menuju pusat kecamatan dan pasar. Kondisi itu membuat pengangkutan hasil pertanian dan perjalanan sehari-hari memakan waktu lebih lama.
Kodim 1418/Mamuju berharap kehadiran jembatan gantung memperbaiki akses penghubung masyarakat Desa Uhaemate. Perbaikan akses dinilai dapat menunjang kesejahteraan warga setempat.
Penyelesaian tahap pengecoran balok angkur menjadi penanda berikutnya sebelum pekerjaan masuk ke pemasangan kabel dan lantai jembatan. Warga Kalukku menantikan jembatan itu bisa segera dilalui.