BEI Perluas Daftar Saham Terkonsentrasi Jadi 19 Emiten, Ambang Kapitalisasi Turun Rp 5 Triliun

Penulis: Rendi Kusuma  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 15:20:01 WIB
Bursa Efek Indonesia memperbarui daftar emiten berkepemilikan saham terkonsentrasi tinggi menjadi 19 perusahaan.

SULAWESI BARAT — Bursa Efek Indonesia memperbarui daftar emiten berkepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (high shareholding concentration/HSC) menjadi 19 perusahaan, dari sebelumnya mencakup emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Ambang batas kapitalisasi pasar untuk masuk daftar itu dipangkas menjadi Rp 5 triliun, sehingga cakupan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham melebar.

Daftar terbaru HSC mencakup emiten dari beragam sektor, mulai dari grup telekomunikasi, perbankan, hingga properti dan konsumer. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) masuk bersama sejumlah emiten afiliasi Grup Saratoga dan perusahaan milik Dato Sri Tahir, PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA).

Langkah perluasan ini diumumkan bersamaan dengan pengayaan data kepemilikan saham yang digarap BEI bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Tujuannya memperkuat transparansi pasar modal sekaligus memberi investor gambaran lebih utuh soal risiko likuiditas pada saham-saham tertentu.

Daftar 19 Emiten yang Masuk Kategori HSC

BEI merinci ke-19 emiten tersebut sebagai berikut:

  • PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
  • PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT)
  • PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
  • PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA)
  • PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS)
  • PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA)
  • PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD)
  • PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
  • PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
  • PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL)
  • PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY)
  • PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP)
  • PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI)
  • PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME)
  • PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP)
  • PT Akasha Wira International Tbk (ADES)
  • PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND)
  • PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT)
  • PT Temas Tbk (TMAS)

Dua Emiten Keluar dari Daftar HSC

Di sisi lain, BEI mencabut status kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi dari dua emiten, yakni PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) dan PT MD Entertainment Tbk (FILM). Pencabutan ini menandakan struktur kepemilikan kedua saham tersebut dinilai sudah tidak lagi memenuhi kriteria konsentrasi yang ditetapkan bursa.

Perubahan komposisi daftar HSC menjadi sinyal penting bagi investor ritel maupun institusi. Saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi umumnya memiliki likuiditas lebih tipis dan rentan terhadap pergerakan harga yang tajam ketika pemegang saham utama melakukan aksi jual atau beli.

Ambang Kapitalisasi Dipangkas, Cakupan Pemantauan Melebar

Sebelumnya, BEI menurunkan ambang batas kapitalisasi pasar emiten yang bisa masuk daftar HSC dari Rp 10 triliun menjadi Rp 5 triliun. Metodologi price impact ratio yang semula hanya diterapkan pada saham berkapitalisasi di atas Rp 10 triliun kini juga berlaku untuk saham dengan kapitalisasi di atas Rp 5 triliun.

Konsekuensinya, daftar emiten HSC berpotensi bertambah panjang. Semakin banyak saham yang dipantau, semakin luas pula informasi yang tersedia bagi investor soal struktur kepemilikan dan potensi risiko konsentrasi.

Sekretaris Perusahaan BEI Aulia Noviana Utami Putri menyatakan perubahan metodologi ini bertujuan meningkatkan transparansi pasar, memperkuat perlindungan investor, serta menyediakan informasi yang lebih berkualitas sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

"PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memperkuat reformasi transparansi pasar modal Indonesia melalui pengayaan data kepemilikan saham dengan informasi yang lebih terperinci serta perluasan cakupan metodologi Kepemilikan Saham Konsentrasi Tinggi," ujar Aulia dalam keterangannya.

Komitmen Penyempurnaan Data Kepemilikan

BEI dan KSEI menyatakan akan terus menyempurnakan metodologi dan data kepemilikan secara berkelanjutan. Acuannya adalah praktik global serta masukan dari investor dan penyedia indeks internasional.

Informasi kepemilikan saham yang lebih lengkap dan terperinci dinilai dapat membantu investor mengambil keputusan secara lebih akurat. Pada akhirnya, keterbukaan data ini diharapkan memperkuat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia secara keseluruhan.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top