POLEWALI MANDAR — Rapat penyusunan Rencana Kerja (Renja) tahun anggaran 2027 antara Komisi I DPRD Kabupaten Polewali Mandar dengan para camat berlangsung selama dua hari, Rabu (29/7/2026). Agenda yang dibagi dalam beberapa sesi ini bertujuan memetakan ulang persoalan di 16 kecamatan dan mencari solusi konkret yang bisa dianggarkan tahun depan.
Ketua Komisi I DPRD Polewali Mandar, Rahmadi, menegaskan bahwa inovasi menjadi syarat utama dalam setiap usulan program kecamatan. “Diperlukan inovasi dari setiap camat, namun tidak keluar dari menu yang telah ada,” ujarnya saat memimpin rapat.
Pasar Mangkak dan Pedagang yang Tak Betah
Salah satu persoalan menonjol datang dari Kecamatan Binuang. Camat Binuang, Andi Saggap, melaporkan bahwa pasar di daerahnya belum berfungsi optimal karena tidak ada tempat penyimpanan dagangan bagi pedagang pada malam hari. “Tiap selesai menjual, pedagang harus membawa kembali semua dagangannya sehingga biayanya lebih tinggi,” tuturnya.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Polewali. Camat Polewali, Masrullah, mengungkapkan bahwa dua pasar besar penyumbang PAD, yakni Pasar Polewali dan Pasar Pekkabata, memiliki bangunan tua peninggalan era 1990-an. Akibatnya, para pedagang enggan memanfaatkan los-los yang disediakan.
Wisata Didahului Swasta, Retribusi Tak Optimal
Dari sektor pariwisata, Camat Binuang mengeluhkan belum adanya regulasi yang memungkinkan kecamatan memungut retribusi dari objek wisata seperti Batetangnga. Padahal, potensi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor ini dinilai cukup besar.
Camat Polewali menambahkan, pihak swasta kerap lebih cepat mengelola kawasan wisata dibandingkan pemerintah. “Kadang kita baru mau datang, mereka sudah di dalam. Bahkan, ada pengelola yang bilang kalau kita tidak memberikan yang mereka butuhkan ketika baru akan mengelola, kalau sudah ramai baru kita datang,” tukas Masrullah.
Sampah Meluber di Pasar Wonomulyo, Armada Minim
Persoalan sampah menjadi sorotan dari Kecamatan Wonomulyo. Camat Wonomulyo, Samiaji, mengungkapkan bahwa pihaknya hanya memiliki tiga armada pengangkut sampah, jauh tertinggal dibandingkan Kecamatan Polewali yang memiliki 15 armada. “Ketika tempat pembuangan dibersihkan, sampahnya sampai meluber ke luar,” pungkasnya.
Rahmadi menegaskan, program inovasi camat yang memiliki dampak besar bagi masyarakat akan diperjuangkan anggarannya. Rapat ini merupakan bagian dari evaluasi tahunan untuk memastikan setiap kecamatan tidak hanya menjalankan rutinitas, tetapi benar-benar menyelesaikan masalah warganya.