JAKARTA — Rapat pemantapan digelar pada Rabu (29/7) lalu, dipimpin oleh Kepala Subbidang Promosi, Informasi, dan Investasi Daerah, Nurul Farasmy, bersama pelatih tetap Sanggar Pelayar Sandeq, Hardianti. Dalam pertemuan itu, tim membahas secara detail penentuan para pemeran yang akan memerankan tokoh-tokoh dalam pementasan.
Penentuan Pemeran dan Pendalaman Karakter
Proses casting menjadi salah satu agenda krusial. Tim tidak hanya memilih pemain, tetapi juga memastikan kesesuaian karakter setiap pemeran dengan tokoh yang akan diperankan. Hal ini dinilai penting agar alur cerita Legenda Lasalaga dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Selain itu, dalam rapat tersebut disusun jadwal latihan, pendalaman karakter, hingga koreografi dan aspek artistik yang akan mendukung jalannya pertunjukan. Semua elemen ini dirancang untuk menghadirkan pertunjukan yang maksimal dan autentik.
Edukasi Sejarah untuk Generasi Muda
Nurul Farasmy menegaskan bahwa pementasan ini bukan sekadar hiburan. “Kisah yang berasal dari Kerajaan Mamuju tersebut diharapkan mampu menjadi media edukasi sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya daerah,” ujarnya.
Legenda Lasalaga sendiri merupakan salah satu cerita rakyat yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Barat. Dengan dipentaskan di TMII, cerita ini diharapkan bisa menjangkau audiens yang lebih luas, tidak hanya warga Sulbar tetapi juga pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia.
Dukungan Penuh Gubernur Sulbar
Kegiatan ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap komitmen Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, dalam mendorong pelestarian dan pengembangan budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah. Pemerintah provinsi melihat sektor kebudayaan sebagai salah satu pilar penting dalam memperkuat identitas dan daya tarik wisata Sulbar.
Melalui persiapan yang matang, pementasan Legenda Lasalaga ditargetkan menjadi salah satu sajian budaya yang membanggakan Sulawesi Barat di tingkat nasional. Anjungan Sulawesi Barat di TMII sendiri selama ini menjadi etalase utama bagi kekayaan seni dan tradisi daerah tersebut di ibu kota.