Pencarian

Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud Dikukuhkan sebagai Toditingara Makkesayang Di Balanipa, Ini Makna Filosofis di Balik Gelar Adat Tertinggi

Kamis, 06 Agustus 2026 • 12:11:31 WIB
Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud Dikukuhkan sebagai Toditingara Makkesayang Di Balanipa, Ini Makna Filosofis di Balik Gelar Adat Tertinggi
Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud menerima gelar adat Toditingara Makkesayang Di Balanipa dalam prosesi pengukuhan di Balanipa.

POLEWALI MANDAR — Pengukuhan H. Samsul Mahmud sebagai Toditingara Makkesayang Di Balanipa menegaskan posisi lembaga adat yang masih hidup dan strategis di tengah masyarakat Mandar. Gelar ini lahir dari kearifan leluhur yang menilai kemuliaan seorang pemimpin bukan dari kedudukannya, melainkan dari pengabdian dan kepeduliannya kepada masyarakat.

Bukan Sekadar Penghargaan Seremonial

Dalam pandangan adat Mandar, setiap gelar kehormatan mengandung dimensi moral yang jauh lebih besar daripada sekadar penghargaan simbolik. Sebutan Toditingara Makkesayang Di Balanipa memancarkan harapan agar penerimanya senantiasa menjadi pengayom yang menghadirkan kasih sayang dalam kepemimpinan, menegakkan keadilan dalam kebijakan, serta memelihara kebijaksanaan dalam setiap amanah yang diemban.

Penghormatan dalam adat Mandar tidak pernah diberikan semata-mata karena jabatan. Kehormatan lahir dari pengakuan atas budi pekerti dan kesungguhan menjaga keseimbangan hubungan antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga adat.

Amanah Moral di Balik Gelar Kehormatan

Setiap gelar adat senantiasa membawa konsekuensi moral. Kehormatan yang disematkan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Masyarakat berharap nilai-nilai kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan yang terkandung dalam gelar tersebut senantiasa tercermin dalam sikap serta kebijakan Bupati kepada semua lapisan masyarakat tanpa membedakan golongan.

Momentum bersejarah ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan pemerintahan, tempat nilai-nilai budaya berpadu dengan semangat membangun daerah tanpa tercerabut dari akar sejarahnya.

Adat sebagai Perekat Sosial dan Penuntun Etika

Pengukuhan ini sekaligus menegaskan bahwa lembaga adat tetap memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat Mandar. Adat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang terus hidup, menjadi penuntun etika, penjaga harmoni sosial, dan perekat kebersamaan di tengah dinamika zaman.

Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari berdirinya gedung atau meningkatnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga jati diri budaya dan merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.

Sinergi Pemerintah dan Pemangku Adat

Bagi masyarakat Polewali Mandar, penganugerahan gelar kehormatan ini diharapkan semakin mempererat sinergi antara pemerintah daerah, pemangku adat, dan seluruh elemen masyarakat. Hubungan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan saling menguatkan merupakan modal sosial yang berharga dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Kepemimpinan yang dicita-citakan adat Mandar bukanlah kekuasaan yang meninggikan diri, melainkan pengabdian yang memuliakan rakyat. Semoga semangat kasih sayang, kepedulian, persatuan, dan penghormatan terhadap adat tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan Polewali Mandar menuju masa depan yang lebih maju.

Follow halosulbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sulbarta.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks