SULAWESI BARAT — Perusahaan jasa keuangan yang berstatus highly-regulated kerap menerapkan level regulasi yang sama untuk semua skala bisnis. Padahal, kebutuhan merchant mikro dengan perusahaan yang memiliki ratusan cabang memiliki kompleksitas yang jauh berbeda.
"Yang sering orang lupakan adalah menganggap kebutuhan pembayaran itu sama di semua tingkat. Kebutuhan di level mikro adalah kemudahan menerima pembayaran, mereka tidak mau proses yang merepotkan. Di level lebih tinggi kebutuhan solusi pasti lebih kompleks, jadi regulasi yang diterapkan juga harus lebih rigid," ujar Hasto kepada detikcom beberapa waktu lalu.
Dari QRIS Tunggal hingga Split Settlement untuk Ratusan Cabang
DOKU menyoroti rentang kebutuhan merchant yang sangat lebar, mulai dari sekadar menerima pembayaran QRIS hingga kebutuhan otomatisasi settlement untuk jaringan usaha besar. Semakin besar skala operasional, proses pengelolaan transaksi, settlement, dan rekonsiliasi menjadi semakin rumit.
"Kami melayani berbagai macam industri dari yang mikro sampai dengan local brand dengan ratusan cabang. Use-casenya sangat luas di SME ini, dari yang paling sederhana sampai yang serumit enterprise," kata Hasto.
Salah satu implementasinya terlihat pada jaringan bengkel dengan ratusan cabang yang menjadi mitra DOKU. Melalui fitur split settlement, sistem tidak hanya memproses transaksi, tetapi juga menyederhanakan laporan aliran keuangan antara kantor cabang dan pusat.
"Seringkali dampak yang diberikan oleh DOKU tidak langsung di sistem pembayarannya, tetapi mungkin lebih dari itu," jelasnya.
Bekal dari Telekomunikasi, E-Commerce, dan Digital Identity
Perspektif Hasto soal kebutuhan bisnis yang beragam terbentuk dari pengalamannya di tiga industri digital berbeda. Dari telekomunikasi, ia memahami bahwa skala dan reliabilitas sistem adalah harga mati. Dari e-commerce, ia melihat ketergantungan pada satu channel pembayaran bisa menjadi risiko bisnis yang fatal.
"Di digital identity, saya belajar bahwa kepercayaan itu hasil dari sistem yang dirancang dengan baik, bukan hanya gimmick marketing," ujarnya.
Keamanan Tanpa Mengorbankan Kenyamanan Transaksi
Saat volume transaksi meningkat, tantangan berikutnya adalah fraud. Hasto menegaskan pendekatan keamanan tidak lagi bisa menggunakan satu checkpoint seragam untuk semua transaksi karena akan mengorbankan kenyamanan pelanggan.
DOKU menerapkan layered, risk-based approach. Transaksi dengan pola normal berjalan tanpa friksi tambahan, sementara verifikasi berlapis baru aktif ketika terdeteksi anomali seperti lonjakan nominal, perangkat baru, atau lokasi yang tidak biasa.
"Keamanan dan kenyamanan itu sering dianggap trade-off, padahal pendekatan yang tepat bukan 'makin ketat makin aman.' Proses pengamanan dilakukan tidak hanya pada saat transaksi terjadi, tetapi jauh sebelum itu, verifikasi merchant itu sendiri, serta post-monitoring juga dilakukan di sisi kami," kata Hasto.
AI untuk Proteksi dan Efisiensi Operasional
DOKU juga mengarahkan pemanfaatan kecerdasan buatan pada dua lapisan operasional: proteksi dan efisiensi. Teknologi yang dikembangkan dirancang agar AI-ready sehingga merchant dapat langsung menggunakannya untuk kebutuhan operasional, bukan sekadar fitur gimmick.
Langkah ini menyasar pelaku bisnis yang kini sudah familier dengan kapabilitas AI dan menuntut sistem pembayaran yang mampu beradaptasi dengan pola transaksi yang terus berubah.