MAMUJU — Angka stunting di Sulawesi Barat masih jauh dari target nasional. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sulbar mencatat prevalensi balita stunting mencapai 27,25 persen berdasarkan data Aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) yang diperbarui 19 Agustus 2026.
Dari 73.470 balita yang sudah diukur, 20.023 di antaranya masuk kategori stunting. Cakupan pengukuran baru mencapai 69,08 persen dari total sasaran 106.355 balita di enam kabupaten.
Data per Juli 2026 menunjukkan disparitas antarwilayah cukup lebar. Majene menempati posisi tertinggi dengan prevalensi 32,02 persen, disusul Mamasa 29,77 persen, dan Mamuju 29,49 persen. Polewali Mandar berada di angka 27,35 persen, sedikit di atas rata-rata provinsi.
Pasangkayu mencatat 22,90 persen, sementara Mamuju Tengah menjadi kabupaten dengan prevalensi terendah, yakni 18,84 persen. Menariknya, cakupan pengukuran tertinggi justru tercatat di Pasangkayu sebesar 76,68 persen.
Angka ini menunjukkan perbaikan dibanding hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir pada 2024 yang menempatkan prevalensi stunting Sulbar di angka 35,4 persen. Namun, kerja keras masih diperlukan untuk mengejar target penurunan yang lebih agresif.
Kepala Dinkes P2KB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan data e-PPGBM menjadi peta jalan intervensi. Menurutnya, pengukuran dan pencatatan pertumbuhan balita harus terus diperkuat agar anak yang bermasalah gizi segera mendapat penanganan.
"Data ini menjadi dasar bagi kita untuk melihat kondisi riil di lapangan sekaligus menentukan langkah intervensi yang lebih tepat sasaran. Penanganan stunting membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja," ujar Nursyamsi.
Pemprov Sulbar mendorong penguatan intervensi spesifik dan sensitif. Fokus utama meliputi pemantauan pertumbuhan balita, peningkatan kualitas gizi, penguatan peran Posyandu, serta keterlibatan keluarga dalam pola asuh.
Nursyamsi menambahkan, setiap kabupaten diminta bergerak berdasarkan data riil di lapangan. "Kita ingin setiap kabupaten bergerak berdasarkan data, sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar menyasar anak dan keluarga yang membutuhkan," tegasnya.
Upaya ini sejalan dengan visi Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera di bawah Gubernur Suhardi Duka, khususnya pembangunan sumber daya manusia unggul sejak usia dini. Kolaborasi antara pemda, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan masyarakat menjadi kunci percepatan penurunan stunting menuju generasi Sulbar yang lebih sehat.