POLMAN — Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Barat menilai kelayakan 500 hektare tambak di Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo. Penilaian itu menjadi tahap awal sebelum kawasan ditetapkan masuk program revitalisasi. Tim juga meninjau tambak di Desa Buku, Kecamatan Mapilli, dalam survei yang sama.
Survei tidak berhenti pada kondisi fisik tambak. Tim memeriksa sumber dan kualitas air, kondisi saluran, akses jalan dan listrik, legalitas lahan, potensi pencemaran, risiko bencana, hingga peluang pasar. Sampel air diambil untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pemetaan batas kawasan dilakukan agar area yang diusulkan punya data spasial jelas.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PDSPKP DKP Sulbar, Fachrul Andi Odang, menyebut data lapangan menjadi dasar penentuan bentuk revitalisasi. Menurut dia, setiap lokasi harus dinilai dari banyak sisi sebelum intervensi ditetapkan.
"Survei ini penting untuk memastikan setiap lokasi yang diusulkan benar-benar sesuai, baik dari aspek lahan, sumber dan kualitas air, aksesibilitas, legalitas, maupun risiko lingkungan. Data yang diperoleh di lapangan akan menjadi dasar dalam menentukan langkah revitalisasi yang tepat," kata Fachrul.
Survei melibatkan Reza Syahroni dari KKP sebagai ahli pemetaan. Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar, Boyun Handoyo, turut serta bersama jajaran.
DKP Polewali Mandar memberi masukan dalam penilaian itu. Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Asdar, meminta revitalisasi menyentuh saluran air tambak. Keluar-masuk air menjadi bagian vital pengelolaan tambak. Saluran yang tidak berfungsi optimal menghambat pengelolaan kualitas perairan dan aktivitas budidaya.
Fachrul menegaskan kebutuhan tiap kawasan akan jadi pertimbangan penentuan intervensi. Ia menyebut kondisi saluran air, kualitas perairan, akses, serta potensi dan risiko di masing-masing lokasi harus dilihat menyeluruh.
"Kita ingin program revitalisasi benar-benar menjawab kebutuhan pembudidaya. Karena itu, seluruh aspek harus dilihat secara menyeluruh, termasuk kondisi saluran air, kualitas perairan, akses, serta potensi dan risiko yang ada di masing-masing lokasi," jelasnya.
Hasil survei juga disiapkan sebagai bahan perencanaan kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan ke Sulawesi Barat. Data luas kawasan, jumlah kelompok, kondisi lahan, kualitas air, infrastruktur, serta persoalan tambak akan dipakai menyusun rencana.
Usulan revitalisasi ini menyasar 15 kelompok pembudidaya di Galeso. Belum ada keterangan resmi soal jadwal dan bentuk intervensi yang akan dijalankan.